Showing posts with label KELUARGA. Show all posts
TERNYATA ISTRIKU LESBIAN
WOW! Aneh tapi nyata, mungkin itu seharusnya judul dari tulisan ini. Ini bukan sekedar selingkuh biasa, tetapi lebih dahysat lagi. Selingkuh dengan sesama jenis. Yang lebih mencengangkannya lagi, disetujui pula oleh suaminya�.
Pernah dengar selentingan tetapi tidak terlalu percaya sampai akhirnya kejadian. Seorang sahabat dari bangku kuliah, Nanda namanya, yang baru kawin enam bulan yang lalu, memberikan sebuah pengakuan yang mengejutkan. Dia mengaku punya pacar seorang perempuan cantik bernama Saskia sejak dua bulan lalu dan sudah mendapat persetujuan dari suaminya.
Tadinya saya pikir dia hanya mengada-ada saja, tetapi dari wajahnya yang tampak serius, sepertinya dia tidak bohong. Apalagi kemudian dia memperkenalkan Saskia kepada saya. Tidak hanya itu, dia pun memperkenalkan saya kepada beberapa wanita anggota �geng� mereka yang menganut aliran sepaham.
Rasa iba yang sangat besar muncul dari lubuk hati yang paling dalam mengingat apa yang terjadi akibat rasa sepi di hati Nanda. Kemudian muncul rasa takut dan curiga yang tidak kalah besarnya. Jangan-jangan� dari dulu dia lesbian! Padahal kita dulu suka tidur bareng, ganti baju rame-rame, peluk-pelukan� TIDAKKKKK !!!!
Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya harus bersikap? Tolong berikan saya jawaban agar mulut yang terkunci rapat dan tubuh yang sepertinya sudah tak bertulang ini bisa berfungsi lagi.
Ayo Mariska! Semangat-semangat!! Berpikir positif! Positif� positif� positif�
Setelah berhari-hari gelisah memikirkan apa yang terjadi, akhirnya saya mendapat jawaban yang saya anggap dari Tuhan. Sebuah buku yang tergeletak di atas meja kerja saya terbuka, dan sepenggal kalimat langsung menarik perhatian saya. ��Ideal society is a drama enacted in the imagination�� The Life of Reason, George Santayana, halaman 150. Bagi saya, artinya adalah tidak mungkin bagi kita untuk selalu mendapatkan segala sesuatunya sesuai dengan yang kita inginkan. Semuanya hanya bisa terwujud di kepala saja, sedangkan kenyataannya kita harus lebih realistis.
Bukan hak saya untuk menilai dia, begitu juga memaksanya untuk berubah. Adalah kewajiban saya untuk membuka mata hati dan pikirannya. Biarpun kecil usaha yang saya lakukan, tetapi lebih baik daripada duduk diam dan berpangku tangan. Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberi sedikit pencerahan seks kepada �geng aneh� ini.
Di hari yang telah ditentukan bersama, saya pun mengunjungi sebuah cafe tempat geng ini biasa berkumpul. Rasanya sedikit aneh. Dari rumah siap-siap akan bertemu dengan wanita-wanita tomboy berdandan ala punk dengan tindikan di mana-mana, tapi kok yang ada justru kaya ibu-ibu arisan. Cantik-cantik, rapih-rapih, harum-harum, dan genit-genit. Ngerumpi sana, ngerumpi sini. Terlalu biasa untuk dibilang aneh.
Setelah basa-basi, �ceramah� pun dimulai. Pertama-tama, saya bertanya, �Siapa di antara ibu-ibu, mbak-mbak, sekalian yang merasa lebih aman menjadi lesbian dibandingkan selingkuh dengan banyak pria?�. Persis seperti dugaan saya, 100% dari mereka yang jumlahnya mendekati angka 50 orang ini menjawab dengan yakin, �Pastinya, dong!
Saya pun melanjutkan dengan penjelasan bahwa apa yang mereka pikir itu tidak sepenuhnya benar. Seorang lesbian pun memiliki resiko tertular penyakit kelamin, HIV, dan AIDS. Terlebih lagi jika mereka tetap melakukan hubungan seks dengan suami-suami mereka. Resikonya jadi dua kali lebih besar lagi.
Seks oral yang mereka biasa lakukan pun memiliki resiko yang tinggi bila tidak mengindahkan kebersihan mulut dan tubuh. Mulut dan tangan yang kotor bisa membawa virus, bakteri, dan kuman penyebab penyakit lainnya masuk kedalam tubuh. Penyakit kelamin seperti herpes pun bisa tertular lewat cara ini. Untuk lebih mendramatisir, saya minta mereka membayangkan luka seperti bisul akibat herpes yang biasanya ada di alat vital, pindah ke mulut dan seputar bibir mereka. Hehehe� banyak yang stress!
Resiko terjadinya kerusakan alat vital dan organ seksual lainnya akibat penggunaan �alat bantu� seperti dildo dan vibrator dengan tidak benar juga bisa terjadi. Bayangkan bila harus dilakukan vagina plasti hanya karena dinding vagina menjadi rusak dan robek seperti saat melahirkan anak. �Aduh, sakitnya!� teriak salah satu dari mereka.
Belum lagi efek psikologis yang timbul akibat tekanan dari luar, kurangnya rasa percaya diri, rasa bersalah, benci, dendam, dan masalah lainnya yang berakumulasi menjadi satu. Membohongi diri sendiri memiliki efek psikologis negatif yang besar terhadap kejiwaan seseorang. Tidak sedikit yang akhirnya merasa dikucilkan, stress, dan buntut-buntunya masuk Rumah Sakit Jiwa. Semua cuma diam dan ada juga yang terbengong-bengong.
Perkembangan psikologis anak pun harus dipikirkan. Kita sebagai orang tua tidak boleh egois, karena bagaimanapun juga, seberapa pintarnya kita menutupi masalah, seorang anak tetap bisa �merasa�. Bila ada sesuatu yang tidak benar dan salah dalam sebuah rumah tangga, seringkali anak yang akhirnya menjadi korban terparah.
Saya tidak meminta mereka untuk kemudian segera berubah pikiran, tetapi saya minta mereka untuk merenung sejenak apa yang telah dibahas sebelumnya. Apapun keputusan yang mereka ambil, tetap akan saya hargai. Toh, semua resikonya mereka yang harus tanggung sendiri.
Sebuah pelajaran yang tak ternilai artinya bagi saya. Semoga juga bisa memberikan banyak manfaat bagi semua
sumber : kesehatan.kompasiana.com
sumber : kesehatan.kompasiana.com
Baca juga artikel ini :
CERITA ISTRI : SUAMIKU TERNYATA...
Aku ingat hari pertama pernikahan kami. Aku dengan lingerie hijau toska meringkuk di ranjang pengantin sedemikian rupa sehingga terlihat menggoda. Bulu-bulu halus di tubuhku sudah aku babat habis supaya tidak lagi menjadi penghalang antara kulitku dan kulit suamiku. Sepuluh menit..dua puluh menit..tiga puluh menit..suamiku tak kunjung keluar dari kamar mandi. Akhirnya pada malam pertama yang sakral itu aku malah tertidur pulas dengan posisi yang jauh dari kesan menggoda.
Aku juga ingat pada minggu pertama pernikahan kami. Kami tidak berbulan madu seperti layaknya pasangan suami istri yang baru menikah. Sehari setelah menikah, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Alasannya, urusan kantor sedang sibuk-sibuknya dan tidak bisa ditinggal. Sedangkan aku sudah resmi menjadi 100% Ibu Rumah Tangga.
Meninggalkan karirku adalah sesuatu yang berat bagiku, tapi permintaan suamiku sebelum kami menikah terpaksa aku iyakan. Saat itu anganku dibawanya tinggi. Empat orang anak, sebuah rumah besar dengan halaman luas, mobil, dan uang belanja yang jauh lebih besar dari gajiku. Alasanku untuk terus berkarir seperti menguap begitu saja.
Setiap hari aku menjalankan peranku sebagai istri dengan sempurna. Bangun lebih awal dari suamiku, menyiapkan sarapan dan keperluannya ke kantor. Selalu menjaga kerapihan rumah karena suamiku akan marah-marah kalau melihat rumah kami berantakan. Menyiapkan makan malam sebelum suamiku pulang dari kantor. Hal terakhir yang tidak boleh terlupakan, untuk tampil rapih dan wangi saat menyambut suamiku pulang. Wajahnya akan berubah ketus kalau melihatku dengan daster dan wajah berminyak dan mencium bau keringatku. Dalam minggu pertama, aku sudah hapal dengan ritualku sehari-hari.
Suamiku seringnya pulang jam sembilan malam. Setelah makan malam, biasanya suamiku akan berselonjor di sofa di depan TV. Sedangkan aku menunggu dengan cemas apakah malam ini akan berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Jam sebelas..jam dua belas..aku sudah mulai mengantuk. Aku menunggunya di kamar tidur kami, mencoba tetap terjaga.
Tapi selalu gagal, sehingga saat aku terbangun aku sadar aku sudah melewatkan lagi kesempatan �malam pertama� kami yang sudah tertunda selama hampir seminggu. Pada malam keenam, aku berhasil melawan rasa kantuk sampai akhirnya suamiku masuk ke kamar kami. Jam satu malam. Aku ingat suamiku berusaha menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui bahwa aku belum tertidur. Aku sudah berancang-ancang dengan posisi menggoda andalanku. Tapi tanpa menoleh sedikit pun suamiku beranjak ke kamar kerjanya, �Ada tugas kantor yang harus diselesaikan�. Gagal lagi.
Masih juga bisa kuingat bulan pertama pernikahan kami. Aku semakin mengenal watak suamiku. Dia tidak suka perhatianku yang melimpah. Dia seperti tidak ikhlas saat menerima kecupan mesraku mengantar kepergiannya ke kantor. Kalau aku bertanya jam berapa dia akan pulang, jawabannya hanya senyum ketus. Sejak kejadian malam keenam, suamiku pulang lebih larut malam dan tidak menentu.
Kadang-kadang jam sepuluh malam, sering juga sampai tengah malam. Dia juga lebih suka menghabiskan akhir pekan di luar rumah. Beberapa kali dia mengajakku berlibur ke tempat-tempat wisata, menginap di hotel-hotel mewah, makan di restoran-restoran mahal, namun selalu diakhiri dengan malam di ranjang yang dingin. Tidak jarang dia membanjiriku dengan pujian di depan teman-temanku, teman-temannya, dan kerabat famili kami. Tidak sedikit hadiah-hadiah kejutan yang dia belikan untukku. Namun tidak satu pun dari semua itu yang kemudian membawa kami pada malam yang indah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada bulan keenam pernikahan kami, aku dan suamiku bertengkar mulut untuk pertama kalinya. Mungkin wanita lain akan lebih cepat bereaksi ketimbang aku yang terlalu berhati-hati menjaga perasaan suami. Aku timbang-timbang, inilah timing yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku. Enam bulan sudah sangat cukup untuk membuktikan aku istri yang penyabar dan pengertian. Malam itu, persis setengah tahun pernikahan kami.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada bulan keenam pernikahan kami, aku dan suamiku bertengkar mulut untuk pertama kalinya. Mungkin wanita lain akan lebih cepat bereaksi ketimbang aku yang terlalu berhati-hati menjaga perasaan suami. Aku timbang-timbang, inilah timing yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku. Enam bulan sudah sangat cukup untuk membuktikan aku istri yang penyabar dan pengertian. Malam itu, persis setengah tahun pernikahan kami.
Aku berusaha bicara seringan mungkin saat kami sedang makan malam. Bahwa tidak terasa sudah enam bulan kami hidup bersama. Bahwa begitu cepat hari berganti hari, bulan berganti bulan. Suamiku hanya mengangguk-angguk sambil terus menikmati makanannya. Tak lagi peduli dengan harga diriku, sekonyong-konyong aku melontarkan pertanyaan yang selama ini mengendap di benakku, � Apa Mas tidak tertarik untuk berhubungan seks denganku?�.
Seketika itu juga suamiku yang tadinya tidak mengacuhkan arah pembicaraanku, menghujamkan tatapannya yang merendahkan ke wajahku. Tak lagi berselera dengan santapan malam itu, sama sekali tidak berusaha untuk menjawab pertanyaanku, suamiku bangkit berdiri dan seperti tidak jelas dengan apa yang mau dilakukannya. Aku sudah terlanjur mengangkat masalah ini ke permukaan, maka aku bertekad tidak akan membiarkan ketidakjelasan ini terus berlanjut. Kuikuti suamiku yang berusaha menghindar menuju ke kamar kerjanya.
�Apa Mas tidak pernah berpikir bahwa suatu saat aku akan menanyakan hal ini?�
�Apa Mas hanya menganggap aku sebagai Pembantu Rumah Tangga saja, yang hanya berfungsi untuk mengurus rumah, keperluan Mas sehari-hari, tapi tidak lebih dari itu?�
�Apa Mas menikahiku hanya untuk mendapatkan status saja, sebagai seorang suami?�
Tamparan tajam mendarat di pipi kananku. Aku jatuh terduduk, bukan karena kerasnya pukulan barusan, tapi karena energi yang sebelumnya begitu besar tiba-tiba habis tersedot oleh amarahku sendiri. Melihatku sudah tak berdaya, suamiku mengeluarkan serangan balik.
�Lantas kamu maunya apa, hah?�
�Kamu pikir aku gak mampu melayanimu di ranjang, hah?�
�Apa diotakmu yang namanya pernikahan hanya sebatas seks saja, hah?�
Aku hanya bisa terisak-isak tetap duduk di lantai tempat aku terjatuh. Entah setan apa yang merasuki suamiku, saat itu dia menarik aku berdiri. Menyeretku ke kamar tidur kami. Mendorongku jatuh ke ranjang.
�Buka bajumu! Atau perlu aku yang membukakan?!�, gertakan suamiku keras dan mengerikan. Dalam satu gerakan dia sudah menelanjangi dirinya sendiri. Sedangkan aku hanya bisa terpaku, tidak menentu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku membuka bajuku dan melayani suamiku seperti yang aku inginkan selama ini? Tamparan tadi, gertakan suamiku, dan kemarahanku menahan keinginanku untuk menjalan tugasku sebagai seorang istri yang patuh dan berbakti. �Aku tidak mau melakukannya dengan terpaksa seperti ini�. Malam itu kami tidur di kamar yang berbeda.
Seminggu setelah kejadian itu, amarah kami mulai mereda. Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku tetap menjalankan tugasku mengurus keperluan rumah tangga walaupun dalam diam. Tidak ada sapaan hangat atau kecupan mesra saat suamiku berangkat maupun pulang kerja. Aku menjalani semua itu dengan ketidakyakinan akan masa depan kami. Apakah akan datang saatnya dimana rumah ini tidak hanya dihuni oleh kami berdua? Sampai kapan kami bisa bertahan sebagai suami istri seperti ini? Apakah kami bahagia?
Tepatnya dua minggu setelah pertengkaran kami, suamiku masuk ke kamar tidur lebih awal. Aku baru saja bersiap-siap tidur. Suamiku tidak mematikan lampu kamar seperti biasanya, malahan menyetel lagu lembut dari DVD player di kamar kami. Aku terus mengikuti gerak-geriknya, sampai tiba-tiba ciuman mesra mendarat di pipiku. Diteruskan ke bibirku, ke leherku. Aku ingat aku kaku seperti mayat saat itu, hanya mengikuti kehendak suamiku. �Malam pertama� kami akhirnya terlaksana dengan penuh tanda tanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak malam itu, aku seperti gadis perawan yang sedang jatuh cinta. Aku tersipu-sipu jika bertatapan mata dengan suamiku. Aku semakin perhatian terhadap suamiku, yang ditanggapi acuh tak acuh seperti biasa. Aku gelisah jika suamiku pulang terlambat, dan sama gelisahnya ketika suamiku pulang lebih awal. Aku rela menunggu sambil terkantuk-kantuk di tempat tidur, walaupun seringkali kecewa saat suamiku memilih untuk langsung tidur.
Aku tidak pernah mengharapkan hubungan seks yang liar. Aku perempuan Asia dari keluarga kolot yang selalu diajarkan untuk bersikap pasif di depan suami. Suamiku dengan wataknya yang dingin selalu menjalankan ritual keintiman kami dengan fase-fase yang monoton. Foreplay secukupnya, membiarkan aku mencapai orgasme lebih dulu, kemudian menyudahinya tanpa pernah membiarkan dirinya terpuaskan. Awalnya aku pikir wajar saja.
Tapi setelah berlangsung bulan demi bulan, aku mulai bertanya-tanya kembali. Apakah ini sekedar upaya suamiku agar aku tidak lagi protes? Lalu untuk apa semua ini? Untuk apa menjalani rumah tangga seperti ini? Tidakkah suamiku menginginkan buah hati seperti yang pernah dikatakannya dulu saat melamarku?
Lalu pada malam tahun pertama pernikahan kami, malam yang seharusnya membahagiakan bagi pasangan muda, kami bertengkar untuk yang kedua kalinya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak pertengkaran hebat malam itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kami. Malam itu juga aku pergi meninggalkan suamiku. Meninggalkan adat yang mengharuskan istri patuh kepada suami. Meninggalkan harapan-harapanku terkubur di rumah itu. Bagiku sudah tidak jelas lagi gambaran seorang istri yang berbakti.
Lalu pada malam tahun pertama pernikahan kami, malam yang seharusnya membahagiakan bagi pasangan muda, kami bertengkar untuk yang kedua kalinya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak pertengkaran hebat malam itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kami. Malam itu juga aku pergi meninggalkan suamiku. Meninggalkan adat yang mengharuskan istri patuh kepada suami. Meninggalkan harapan-harapanku terkubur di rumah itu. Bagiku sudah tidak jelas lagi gambaran seorang istri yang berbakti.
Sejak saat itu pula, aku tinggal di rumah peninggalan orangtuaku yang sudah lama kosong. Sejak ibuku meninggal lima tahun yang lalu, aku meninggalkan rumah ini kosong dengan meminta bantuan seorang kerabat untuk menengoknya sesekali. Sedangkan aku tinggal di rumah pamanku bersama istrinya dan anak-anak mereka di kota lain dimana aku melanjutkan pendidikanku sampai mendapat gelar sarjana. Di kota ini pula aku berkenalan dengan suamiku, seorang teman dari temanku.
Tampan, berpendidikan baik, berkedudukan tinggi di kantornya, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Usianya 35 tahun saat berkenalan denganku, sedangkan aku baru 25 tahun. Hanya dalam waktu dua bulan, dia sudah mulai menyatakan keseriusannya denganku. Keluarga pamanku sangat mendukung hubunganku dengannya yang terlihat begitu santun di depan mereka.
Sedangkan keluarga suamiku tidak segan-segan langsung meminta persetujuan pamanku sebagai waliku untuk menikahiku dengan anak kesayangan mereka. Saat itu aku tidak menyempatkan diriku bertanya ke dalam hatiku sendiri, apakah aku mau menikahinya karena mencintainya, ataukah hanya karena kelebihan-kelebihannya? Semua berjalan begitu cepat, sampai-sampai aku pun terlupa menanyakan satu pertanyaan yang paling penting, �Apakah dia mencintaiku?�
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih ingat minggu pertama sejak aku meninggalkan rumah suamiku. Aku hanya tinggal sendirian. Tidak ada yang tahu aku tinggal di sini, bahkan keluarga pamanku. Kepada kerabat yang biasanya datang membersihkan rumah ini kukatakan aku sedang berlibur beberapa minggu. Aku benar-benar mengucilkan diriku sendiri.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih ingat minggu pertama sejak aku meninggalkan rumah suamiku. Aku hanya tinggal sendirian. Tidak ada yang tahu aku tinggal di sini, bahkan keluarga pamanku. Kepada kerabat yang biasanya datang membersihkan rumah ini kukatakan aku sedang berlibur beberapa minggu. Aku benar-benar mengucilkan diriku sendiri.
Tidak keluar rumah sama sekali. Makan seadanya. Tidak mandi, tidak juga mengganti pakaianku. Kerjaanku hanya meringkuk di tempat tidur, kemudian tertidur beberapa jam, terbangun, kemudian tertidur lagi. Entah apa yang ada dipikiranku. Kadang-kadang aku berpikir tentang betapa bencinya aku pada suamiku, terkadang merasa kasihan terhadapnya. Tapi pernahkah ia merasa kasihan terhadapku?
Aku juga masih bisa ingat minggu-minggu berikutnya dari kehidupan nerakaku. Pikiranku semakin tidak karuan. Aku semakin tidak mengenal waktu. Kapan Senin, kapan Minggu. Kapan pagi, kapan siang. Pernahkah suamiku berusaha menghubungiku? Mencariku ke rumah ini? Patutkah aku meneleponnya? Dimana handphone-ku? Ruang sudah tak jelas juga bagiku.
Apakah suamiku masih peduli denganku? Apakah dia pernah mencintaiku? Apakah aku pernah mencintainya? Kenapa aku merindukannya tapi juga membencinya? Aku menangis, tapi anehnya aku juga tertawa-tawa. Apa yang salah denganku?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah sudah minggu keberapa sejak malam itu, saat aku menyaksikan kejadian yang membawaku ke dalam penderitaan ini. Malam itu, malam tahun pertama pernikahan kami. Aku bermaksud membuat kejutan untuk suamiku di kantornya. Berbekal kue tart buatanku, dengan dandanan sedikit istimewa, aku nekat datang ke kantornya yang mungkin justru akan membuat suamiku jengkel. Aku lihat sekretarisnya, seorang pemuda yang tampan dan seumuran denganku, sedang tidak di mejanya. Mungkin dia sedang di dalam ruangan suamiku untuk mendiskusikan sesuatu. Apakah sebaiknya aku menunggu? Ah, biar saja. Aku kan bermaksud memberikan kejutan.
Tapi kejutan itu ternyata bukan untuk suamiku, melainkan untukku. Di ruangan itu, di hari istimewa itu, aku melihat suamiku dan sekretarisnya yang tampan itu sedang hanyut dalam ciuman yang begitu panas. Apakah aku bermimpi? Suamiku sedang menikmati percintaannya dengan kekasih gelapnya selama ini.
Bukankah ini cuma sekedar cerita murahan di novel-novel yang suka aku baca? Tapi kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Suamiku seorang gay. Suamiku lebih mencintai lelaki itu daripada istrinya sendiri, aku. Aku..aku..sudah tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Apakah itu hanya mimpiku saja? Aku berharap itu hanya mimpi saja.
Tapi bukankah aku seharusnya di rumah suamiku saat ini menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Tapi kenapa aku di ruangan sempit dan serba putih ini dengan tangan terikat membalut tubuhku?
Sumber : riopunyacerita.blogspot.com
CERITA ISTRI SELINGKUH GARA-GARA FACEBOOK
Sejatinya kemajuan teknologi informasi adalah untuk memudahkan manusia. Namun ketika kemudahan itu sudah didapat, teknologi informasi tersebut dapat pula disalahgunakan. Situs jejaring sosial Facebook adalah salah satu produk teknologi yang dapat disalahgunakan bukan hanya pria, bahkan seorang wanita. Seperti dalam kisah berikut tentang pengakuan seorang istri yang selingkuh melalui Facebook.

Lima belas tahun sudah aku menikah dengan Mas Bambang. Selama itu pula hubunganku dengan Bambang sangat harmonis. Apalagi dengan kehadiran tiga buah hati kami. Namun, petaka di dalam keluargaku mulai muncul tatkala aku mengenal Facebook (FB). Gara-gara jejaring sosial inilah impianku untuk membangun rumah tangga yang utuh berantakan. Aku yang sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga tergoda dengan rayuan lelaki lain melalui FB.
Cerita ini berawal ketika 2010 lalu aku diperkenalkan oleh suamiku tentang Facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang, karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah.
Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku. Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu.
Wajahku memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 37 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di Facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalanlebih jauh denganku. Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami, Sehingga mereka tidak pantas untuk menyukaiku
Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Tommy semuanya berubah.
Cerita ini berawal ketika 2010 lalu aku diperkenalkan oleh suamiku tentang Facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang, karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah.
Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku. Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu.
Wajahku memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 37 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di Facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalanlebih jauh denganku. Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami, Sehingga mereka tidak pantas untuk menyukaiku
Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Tommy semuanya berubah.
Tommy adalah seorang PNS yang mendapat beasiswa S2 tingkat akhir salah satu PTN , berasal dari luar Jawa. Wajahnya tampan setampan suamiku, cerdas dan kaya. Dari postingannya aku dapat menilai, ia lelaki yang sudah menikah ini sangat religious. Tommy betul-betul mampu menggoyahkan imanku.
Bahasanya yang santun, dan caranya ia memerhatikanku di Facebook telah membuat hati ini luluh. Setiap hari kami ngobrol lewat facebook. Bahkan kami saling bertukar pikiran tentang rumah tangga kami masing-masing.
Ya�boleh dibilang kami saling curhat-curhatan. Dari sinilah perasaan aneh muncul, baik saya maupun Tommy. Akhirnya, Tommy menyatakan sayangnya lewat chat dan ingin berjumpa denganku.
Aku yang sejak awal sudah tertarik dengan Tommy tak mampu menolaknya. Namun, aku masih malu-malu menyatakan suka kepadanya.
Setelah sekian bulan hanya chat di facebook, kami pun sepakat untuk bertemu. Kami kemudian melakukan pertemuan di salah satu restoran di dikawasan timur Jakarta. Saat itu Tommy datang seorang diri, sementara aku membawa anak bungsuku.
Walaupun, aku menyukainya, aku tak ingin pertemuan kami menimbulkan fitnah. Perasaanku deg-degan saat bertemu dengan Tommy. Ia pun menyapaku dengan suara berat. Ada yang lain muncul di dalam hatiku. Di tempat itu, Tommy pun kembali menyatakan ketertarikannya kepadaku. Akupun menyatakan hal yang sama.
Pertemuan dengan Tommy di restoran tersebut bukanlah hal yang terakhir. Sejak pertemuan itu, kami pun sering janjian untuk bertemu. Bahkan, kadang, aku bertemu dengan Tommy seorang diri tanpa membawa anakku. Kebetulan di rumah aku memiliki seorang pembantu rumah tangga.
Rupanya, inilah awal dari keretakan rumah tanggaku dengan Bambang. Aku sudah mulai jarang di rumah tanpa sepengetahuan Bambang. Maklum, setiap hari Bambang bekerja mulai dari pagi hingga malam. Sementara, kadang aku selalu bertemu dengan Tommy dari siang hingga sore.
Tommy telah membuka mataku tentang indahnya dunia ini. Ia mengajak aku shopping, wisata kuliner, dan mendatangi tempat- tempat hiburan lain. Ini semua kulakukan tanpa harus mengeluarkan duit. Aku seakan-akan sudah terjebak dalam kehidupan foya- foya.
Walaupun aku sering foya-foya dengan Tommy, sikapku di rumah tetap seperti biasa. Aku tetap sebagai istri melayani suamiku ketika ia baru pulang dari kantor. Termasuk mengurus pakaian dan makanannya saat ia akan ke kantor di pagi hari.
Setelah jalan bareng dengan Tommy selama dua bulan, aku pun tak mampu menolak ajakan Tommy untuk bertemu di hotel. Saat itu Tommy sudah membooking satu kamar di salah satu hotel berbintang di timur Jakarta. Sekitar pukul 11.00 WIB aku datang menemuinya di kamar itu. Setelah kami berbincang-bincang selama beberapa menit, aku tak kuasa ketika Tommy memeluk tubuhku.
Akhirnya, aku pun terjebak dalam rayuan syetan, tergoda dan rela melakukan hubungan suami istri dengan lelaki yang bukan suamiku sendiri. Sejak peristiwa itu, kami sering melakukannya, dari satu hotel ke hotel yang lain. Aku pun begitu menikmati kehidupanku ini. Namun, di hatiku setiap hari berteriak. Aku tak rela mengkhianati suamiku yang sudah memberiku tiga orang anak. Apalagi ia begitu baik dan begitu memercayaiku. Ia pun sangat disenangi oleh keluargaku.
Aku ingin lepas dari kehidupan Tommy yang harus kuakui telah memberi warna baru dalam hidupku. Ia pun mengaku tulus mencintaiku. Di depanku juga ia mengaku berdosa telah mengkhianati istrinya. Tapi, ia pun tak bisa meninggalkanku.
Bulan berganti bulan, kehidupanku tak ada yang berubah. Aku pun dan Tommy masih tetap jalan bareng. Bahkan, aku semakin takut kehilangannya. Namun, peribahasa yang mengatakan, sepandai- pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga telah terbukti kepada diriku.
Sepandai-pandainya aku menyembunyikan hubungannya dengan Tommy, akhirnya ketahuan juga oleh suamiku. Aku, ketahuan selingkuh setelah suamiku membaca SMS Tommy yang berisi kata-kata mesra. Ia pun memaksa aku untuk mengaku.Aku saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi suamiku langsung menghubungi nomor ponsel Tommy. Awalnya Tommy membantah, dan mengatakan bahwa ia dan diriku hanya berteman. Namun, setelah diancam oleh suamiku, Tommy mengakuinya dan meminta maaf.
Namun, suamiku sudah terlanjur sakit. Ia pun langsung menceraikanku. Saat ini aku, dan Bambang masih dalam tahap perceraian.
Namun, dalam doaku setiap selesai shalat aku memohon maaf kepada Allah SWT, kepada suamiku, kepada anak-anakku dan kepada keluargaku karena aku telah menyia-nyiakan cinta mereka. Aku ikhlas menerima ini semua atas konsekuensi dari perbuatanku sendiri.
Namun, aku masih tetap berharap untuk bisa kembali bersama dengan Bambang, dan akan aku buktikan untuk menjadi istri yang baik."
Catatan : sumber cerita ini belum jelas. Ada banyak blog yang memuat kisah ini jadi bingung menyebutkan sumber. Bila ada pembaca yang merasa tulisan ini adalah milik anda, harap menghubungi kami di parhusip@gmail.com atau berikan saran di kritik komentar.
CERITA SEDIH : JUAL KEPERAWANAN UNTUK MENGOBATI IBU SAKIT
Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe Wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:
� Maaf, nona � Apakah anda sedang menunggu seseorang? �
� Tidak! � Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
� Lantas untuk apa anda duduk di sini?�
� Apakah tidak boleh? � Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.
� Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami. �
� Maksud, bapak? �
� Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini �
� Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual �, Kata wanita itu dengan suara lambat.
� Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini? �
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada Barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
� Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti. �
� Saya ingin menjual diri saya, � Kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam kearah petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
� Mari ikut saya, � Kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperativ karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.
Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.
� Apakah anda serius? �
� Saya serius � Jawab wanita itu tegas.
� Berapa tarif yang anda minta? �
� Setinggi-tingginya. . �
� Mengapa? � Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.
� Saya masih perawan �
� Perawan? � Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini..Pikirnya
� Bagaimana saya tahu anda masih perawan? �
� Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan � �
� Kalau tidak terbukti? �
� Tidak usah bayar � �
� Baiklah � � Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
� Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda. �
� Cobalah. �
� Berapa tarif yang diminta? �
� Setinggi-tingginya. �
� Berapa? �
� Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa? �
� Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya. �
Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.
� Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?�
� Tidak adakah yang lebih tinggi? �
� Ini termasuk yang tertinggi, � Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
� Saya ingin yang lebih tinggi� �
� Baiklah. Tunggu disini � � Petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.
� Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana? �
� Tidak adakah yang lebih tinggi? �
� Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh � �
� Saya ingin tawaran tertinggi � � Jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.
Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.
� Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli.� Kata petugas satpam itu dengan agak kesal.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
� Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? � Kata petugas satpam itu dengan sopan. Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu �
� Berapa? � Tanya pria itu kepada Wanita itu.
� Setinggi-tingginya � Jawab wanita itu dengan tegas.
� Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? � Kata pria itu kepada sang petugas satpam.
� Rp.. 6 juta, tuan �
� Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam. �
Wanita itu terdiam. Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.
� Bagaimana? � tanya pria itu.
� Saya ingin lebih tinggi lagi � � Kata wanita itu.
Petugas satpam itu tersenyum kecut.
� Bawa pergi wanita ini. � Kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.
� Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual? �
� Tentu! �
� Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu � �
� Saya minta yang lebih tinggi lagi � �
Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.
� Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya. �
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
� Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup? � Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika.
� Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang? �
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu. Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu:
� Pak, apakah anda butuh wanita � ??? �
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan
wajahnya.
� Ada wanita yang duduk disana, � Petugas satpam itu menujuk kearah wanita tadi.Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
�Dia masih perawan.. �
Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter.
� Benarkah itu? �
� Benar, pak. �
� Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu � �
� Dengan senang hati. Tapi, pak �Wanita itu minta harga setinggi tingginya. �
� Saya tidak peduli � � Pria itu menjawab dengan tegas.
Pria itu menyalami hangat wanita itu.
� Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah �. � Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.
� Mari kita bicara di kamar saja. � Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu. Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya.
Di dalam kamar �
� Beritahu berapa harga yang kamu minta? �
� Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit �
� Maksud kamu? �
� Saya ingin menjual satu satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih �. �
� Hanya itu � �
� Ya �! �
Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah perawan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut kemana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan diatas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.
� Siapa nama kamu? �
� Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar � � Kata wanita itu.
� Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar. �
�Kalau begitu, tidak ada kesepakatan! �
� Ada ! � Kata pria itu seketika.
� Sebutkan! �
� Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah � � Kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.
� Saya tidak mengerti � �
� Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar � �
� Dan, apakah bapak ikhlas�? �
� Apakah uang itu kurang? �
� Lebih dari cukup, pak � �
� Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal? �
� Silahkan � �
� Mengapa kamu begitu beraninya � �
� Siapa bilang saya berani. Saya takut pak � Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` � Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan � �
� Keyakinan apa? �
� Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita � � Wanita itu kemudian melangkah keluar kamar. Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata:
� Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini ��
� Kesadaran� � .. . .
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.
� Kamu sudah pulang, nak �
� Ya, bu � �
� Kemana saja kamu, nak � ??? �
� Menjual sesuatu, bu � �
� Apa yang kamu jual? � Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum �
Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan �.
� Kini saatnya ibu untuk berobat � �
Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata:
� Tuhan telah membeli yang saya jual� �.
Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi:
� Antar kami kerumah sakit � �
Baca juga artikel ini :
CERITA DEWASA : SUAMIKU MANDUL, AKU DIHAMILI PRIA LAIN
Cerita ini kutuliskan untuk pembaca, dengan harapan dapat mengambil hikmah. Namaku Surti, usiaku 16 th. Mungkin bagi kalian, usiaku masih belum cukup dewasa untuk menikah, tapi di kampungku, di pelosok kota Jogja, usiaku merupakan usia yang sudah pantas untuk membentuk keluarga. Kata ibuku, sebagai anak perempuan, aku harus segera mempunyai suami sehingga hidupku terjamin, sampai nantinya aku akan melahirkan seorang anak untuknya, meneruskan keturunan keluarga besar Susilo, tuan tanah di desaku.
Ibuku bilang aku adalah orang paling beruntung di desa karena dipersunting oleh orang kaya lagi terhormat. Di pikiranku terbayang sebuah pernikahan yang bahagia, suatu babak hidup yang baru, lembaran baru dan keluarga baru, keluarga besar Susilo. Malam ini, malam pertamaku, malam pernikahanku. Malam ini pula, aku menunggu suamiku membuka pintu kamarku yang sampai sekarang masih tertutup. Beberapa saat kemudian, bunyi pintu kamar yang terkuak menggugah lamunanku. Malam ini, malam pertamaku, malam pernikahanku, kulihat sosok lelaki merengkuhku, merenggut kesucianku yang memang kusediakan untuknya, suamiku.
Namaku Surti, ah bukan, Ny. Susilo. Kemanakah Surti? tiba-tiba aku harus menyandang nama lain yang asing sama sekali bagiku. Kata Ibuku, nama itu cocok kusandang. Namaku Ny. Susilo, usiaku sekarang 21 tahun dan aku belum melahirkan seorang anakpun bagi suamiku. Aku melihat ibu mertuaku sering menatap tajam ke arahku, mulutnya nyinyir, mengeluarkan kotoran kemana ia suka, mengeluarkan bau busuk dimanapun ia berada, di ruang tamu, di dapur, di kamar, di WC, bahkan di rumah tetangga. Bau busuk, hanya itulah yang keluar dari mulutnya dan aku tetap diam, begitu juga suamiku. Suamiku bahkan mulai jarang pulang, bukan aku tidak tahu, kemana ia pergi. Ke kompleks pelacuran, itulah tempat yang paling ia suka.
Kompleks pelacuran? Sejak kapan suamiku punya hobi pergi ke kompleks pelacuran? Setahun yang lalu? dua tahun lalu? Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Lima tahun lalu? Atau sebelum itu? Anehnya, baik ibu mertuaku atau orang tuaku malah menyalahkan aku. Bagaimana dengan Ayah mertuaku ? lupakanlah, ia sudah mati jauh sebelum aku menikah dengan anaknya. Intinya, akulah yang tidak becus meladeni suami, sehingga suamiku lari ke pelukan pelacur itu. Apa lagi, aku mandul, itulah yang dibilang ibu mertuaku, bau busuk yang ia sebarkan hampir di setiap sudut desa ini. Percayalah, aku tidak mandul, tapi aku sungguh tidak tahu mengapa aku tak kunjung hamil juga. Anehnya, suamiku sama sekali tidak memusingkan hal ini, bukankah keturunan adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia? Malam itu suamiku baru saja pulang, entah dari mana, aku pura-pura tidur ketika ia membuka pintu kamar.
�Kau sudah tidur?�
Suamiku menyapaku! Hatiku bahagia sekali, sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku membalikkan tubuhku, kutatap matanya dalam-dalam.
�Belum mas� Jawabku. �Mas dari mana?�
Sungguh pertanyaan yang paling konyol yang pernah kuucapkan. Bukankah aku tahu ia baru kembali dari pelukan pelacur itu ?
�Kau tak perlu tahu, yang penting kau harus berpikir bagaimana bisa melahirkan seorang anak untukku!�
Jantungku berdesir, sakit sekali seperti ditusuk dengan ribuan paku, bukan, lebih dari ribuan paku. Aku membenamkan kepalaku dalam bantal, menangis tanpa suara, suara yang tak pernah kumiliki walau sekedar untuk mengeluarkan isi otakku. Aku tak pernah mempunyai suara. Selanjutnya, hari-hariku seperti neraka saja, seluruh penduduk desa bergunjing tentang aku, bahwa aku mandul, perempuan yang tidak sempurna. Aku juga melihat pelacur itu selalu ceria, senyumnya membuat hatiku semakin terluka, seperti disayat sembilu. Pelacur itulah, yang tidur dengan suamiku setiap malam, setiap malam sebelum suamiku menjamah tubuhku. Ia membayar pelacur itu tiap malamnya, sedangkan aku harus melayaninya seumur hidupku tanpa bayaran, kecuali makian yang kudapat dari ibunya dan suamiku sendiri. Inikah hidup baru yang dulu aku bayangkan? Yang kuimpikan dan kuidamkan? TIDAK dan tentu saja aku takkan tinggal diam, karena aku adalah Surti.
�Dasar pelacur!� Teriakku pada perempuan yang sekarang berdiri di depanku. Hari itu aku tak bisa menahan diri untuk menemui perempuan itu di kompleks pelacuran.
�Pelacur? Yah tentu saja aku pelacur dan asal kau tahu Ny. Susilo, aku bangga dengan profesiku.�
Mukaku memerah karena marah. Kuremas tanganku, ingin rasanya kutempeleng wajahnya.
�Kau telah merebut suamiku, kau memang perempuan murahan!�
�Merebut? Suamimu sendiri yang datang padaku dan melayaninya adalah tugasku. Kau salah alamat Ny. Susilo, kau harusnya mendamparat suamimu karena ia tidak setia, bukan kepadaku!�
�Plak!�
Aku menampar wajah perempuan itu, amarah tergambar jelas di wajahku. Namun aku sungguh tak menyangka ia membalas tamparanku, bahkan lebih keras dari tamparanku.
�Aku memang pelacur, tapi takkan kubiarkan satu orangpun melecehkan harga diriku�
Aku tertawa keras, berani sekali pelacur ini ngomong soal harga diri.
�Kau pikir kau lebih berharga dari aku, Nyonya? Katakan padaku apakah suamimu menghargaimu?�
Aku tediam, tiba-tiba saja aku tak punya lagi kata-kata. Aku sudah kalah dan aku pergi dari pelacur itu dengan kekalahan. Ya, kekalahan telak seorang istri tuan tanah yang terhormat. Air mataku mengalir deras, sesaat aku berpikir apakah gunanya aku hidup. Toh aku bukan istri sempurna. Malam itu aku menunggu suamiku pulang, kali ini aku tidak berpura-pura tidur, tak kupejamkan mataku walaupun sejenak. Akhirnya suamiku pulang, kuhirup bau bandannya, bau parfum pelacur itu.
�Kau baru dari pelacur itu?� Tanyaku dan aku sangat terkejut dengan keberanianku menanyakan hal itu padanya.
�Iya.�
Hatiku luluh lantak mendengar jawaban yang jujur itu, aku berharap ia berbohong, sungguh aku ingin kebohongan yang manis walau beracun.
�Kau mengkhianati aku, mas.�
�Aku mencintai Widuri.�
Sungguh, aku berharap apa yang diucapkannya barusan adalah kebohongan tapi aku melihat kejujuran di mata itu.
�Aku menikahimu untuk melahirkan anak-anakku, tapi kau tak kunjung hamil juga.�
�Aku baru saja berpikir apa kau pantas menjadi ayah dari anakku kelak!�
Mata itu menatapku terkejut, akhirnya aku bersuara, akhirnya suaraku berguna juga.
�Lancang!� Teriak suamiku sambil menempeleng aku, darah segar keluar dari sudut bibirku. Aku tidak menangis, tidak, aku bersumpah takkan ada lagi setetes air matapun untuknya. Suamiku beranjak pergi dari kamarku, malam itu ia tidak kembali.
Lelaki itu sedang duduk di ruang tamu dan menatapku penuh senyum, menyapaku penuh kerinduan. Andi adalah teman sepermainanku sejak kecil, terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari pernikahanku.
�Gimana kabarmu Ti?�
�Baik, mas sendiri?� kataku balas bertanya
�Aku jadi buruh di Jakarta, hidup di Jakarta ternyata sulit Ti�
�Namanya juga kota besar mas�
�Aku kembali ke sini justru karena aku dipecat, situasi pabrik kacau, sebagian besar buruh dipecat dengan alasan kesulitan keuangan, kami para buruh menggalang aksi mogok sampai berhari-hari karena nasib kami nggak jelas. Eh, pemilik perusahaan malah minggat entah kemana.�
Aku tertegun sesaat, jadi buruh ternyata tak lebih baik dari pada jadi petani.
�Kami, para buruh ditelantarkan begitu aja, pemerintah juga tidak melakukan tindakan apapun terhadap nasib kami.�
�Sudahlah mas, terima aja, mungkin emang nasibmu lagi apes. Nggak usah macem-macem mas entar nasib kamu kayak Marsinah gimana?� Kataku ngeri dengan kisah Marsinah yang mati karena dia terlalu vokal.
�Pokoknya aku nggak mau tahu Ti, kita emang miskin, tapi jangan diem aja kalo diperlakukan sewenang-wenang.�
Aku diam aja, Andi emang sulit diajak ngomong kalo udah pakai kata �pokoknya�, sulit diganggu gugat. Aku tak mau ambil pusing dengan masalahnya, yang jelas aku sudah memberi nasihat padanya. Andi berniat tinggal di desa selama beberapa bulan, kami memang cukup dekat, bahkan ia pernah mau melamarku, namun ia tidak punya keberanian yang cukup untuk itu. Apalah artinya seorang pemuda miskin bila dibandingkan dengan mas Joko yang seorang tuan tanah.
Aku tercenung sesaat ketika kutemukan selembar surat hasil pemeriksaan dari Dokter. Kupikir suamiku sakit tapi ternyata aku salah, suamiku sama sekali tidak sakit. Surat itu menyatakan bahwa suamiku mandul! Hatiku bahagia sekaligus marah, suamiku yang mandul bukan aku! Aku ingin berteriak pada semua orang bahwa aku tidak mandul bahwa suamikulah yang mandul. Aku ingin mengatakan pada ibu mertuaku yang nyinyir itu bahwa aku tidak mandul, bahwa anaknyalah yang mandul. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak mandul. Aku tertawa, namun sesungguhnya aku menangis, yah aku menangis.
Suamiku menatapku heran, ia terpana dengan surat pemeriksaanku dari dokter yang menyatakan aku telah hamil dua bulan, wajahnya pucat pasi namun aku merasakan kemenangan dalam hatiku.
�Aku telah membuktikan bahwa aku tidak mandul� kataku. �Dan kau tak sanggup membuktikan bahwa kau cukup subur untuk membuatku hamil.�
Aku melihat dengan jelas wajah suamiku memerah, entah karena malu atau marah. Mungkin keduanya.
�Dengan siapa kau mengandung, anak siapa bayi yang kau kandung,� tanya suamiku dengan suara gemetar.
�Apakah itu penting? Bukankah keluargamu menginginkan keturunan? Dengarkan aku, Joko Susilo, kau akan merawat, mengasuh darah daging orang lain dan anak ini akan menjadi satu-satunya pewaris dari kekayaanmu.�
Inilah hari kemenanganku. Aku tak peduli lagi dengan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Widuri, pelacur iru. Aku tak peduli. Suamiku harus menutupi kenyataan dari semua orang, termasuk ibunya bahwa dia mandul dan ia terpaksa menerima darah daging orang lain sebagai pewarisnya.
Inilah pernikahanku. Sebuah pernikahan yang pernah aku idamkan sebagai pernikahan yang penuh kebahagiaan namun ternyata penuh kemunafikan. Aku telah mengandung dan semua gunjingan pun berakhir.
Ibu mertuaku begitu bahagia, tanpa ia tahu bahwa bayi yang kukandung bukanlah darah dagingnya. Semua keluarga begitu bahagia kecuali suamiku. Namaku Surti, sebagai seorang perempuan aku harus menjaga kesucianku, sebagai seorang istri aku harus mengabdi, menjaga kesetiaanku pada suamiku dan sebagai seorang ibu aku harus mengasuh anakku siang dan malam. Yah, itulah aku dan untuk semua itu hanya ada satu alasan, karena aku adalah seorang perempuan. Namaku Surti, dan saat ini aku berada di stasiun Lempuyangan, begitu banyak orang lalu lalang, melepas kepergian salah satu keluarga mereka, mungkin suami mereka. Dan aku berdiri di sini melepas kepergian kekasihku, Andi.
Sumber : http://properti.kompas.com. Penulis : Dian Septi Trisnanti, SS, lahir pada 20 September, 1983, di Solo. Lulusan Sanata Dharma University, Yogyakarta. Pernah bergabung di LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), LMND-PRM (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi-Politik Rakyat Miskin), Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, Aliansi Jurnalis Independen.
CERITA ANAK TERBARU 2013
Posting kali ini saya mau sharing cerita anak terbaru. Asumsi saya anda adalah para orang tua yang sedang mencari cerita anak terbaru untuk putra putri anda.
Ditengah derasnya arus informasi, khususnya di media televisi dan internet, sebagai orang tua kadang kita tak punya pilihan dalam memberikan bahan bacaan untuk anak-anak kita khususnya anak usia 3 - 12 tahun.
Kadang anak lebih betah menonton kartun ketimbang membaca cerita di buku. Lebih parah banyak anak-anak usia belasan tahun sudah menikmati tayangan sinetron. Bila sinetronnya memang khusus buat anak dan mendidik mungkin tidak jadi masalah.
Yang memprihatinkan adalah sinetron yang tidak masuk akal, sarat dengan adegan kekerasan atau tidak layak dikonsumsi anak.
Oke, dari pada ngelantur saya mau bagikan cerita anak terbaru yang bisa anda download pada link di bawah ini.
Anda juga dapat mendownload kumpulan cerita anak yang sudah pernah saya posting sebelumnya DI SINI dan DI SINI
Untuk mendownload cerita anak bergambar download DI SINI
TEST IQ BAHASA INDONESIA
Sebenarnya ada beberapa situs test IQ berbahasa Indonesia online yang teredia di internet. Namun sejauh ini situs di bawah inilah yang lumayan bagus menurut saya.
Yang paling penting dari situs ini adalah cara penggunaannya sangat mudah tapi bukan berarti jawabannya mudah. Anda disuruh menjawab 37 pertanyaan dan juga diberi batas waktu tertentu.
Namun bila anda salah dalam menjawab, anda bisa mencobanya kembali. Ketika menyelesaikan semua pertanyaan anda akan diberi skor. Oh yah, Tes IQ ini dikembangkan oleh para ahli kejiwaan dan telah diuji di SRH University of Applied Science Heidelberg
Saya perhatikan website ini cukup banyak dijadikan sebagai referensi dalam test IQ berbahasa Indonesia versi online.
Saya perhatikan website ini cukup banyak dijadikan sebagai referensi dalam test IQ berbahasa Indonesia versi online.
Bila anda ingin mencoba silahkan klik pada link di bawah ini. Semoga bermanfaat!
DOWNLOAD CERITA ANAK
Download Cerita Anak. Ilmu psikologi mengatakan bahwa bercerita kepada anak sangat berpengaruh kepada perkembangan dan psikologi anak.
Dampak positif dari Cerita anak dapat :
- Mendisiplinkan
- Mempererat hubungan kekeluargaan
- Mengembangkan daya pikir, kreatifitas dan immajinasi
- Menumbuhkan minat baca.
Tentunya cerita dimaksud adalah cerita yang membangun. Terima atau tidak tayangan televisi yang berisikan sinetron atau film yang semestinya bukan konsumsi anak mempengaruhi pola pikir anak.
Cerita anak bisa berupa cerita anak bergambar atau gabungan narasi dan gambar. Memang sangat disarankan agar cerita untuk anak diberi ilustrasi berupa gambar-gambar menarik.
Nah, untuk anda orang tua yang sayang anak, saya akan bagikan cerita anak yang sudah saya buat file PDF. Artinya anda dapat mencetaknya untuk dibaca putra putri anda.
Cerita ini saya ambil dari berbagai sumber.
Oke, silahkan download Cerita Anak pada link di bawah ini.
CERITA DEWASA : ISTRIKU SUKA DUGEM
Cerita Dewasa : Istriku Suka Dugem. Cerita ini aku utarakan sebagai pembelajaran untuk anda. Aku kira dengan menikahi Lili (samaran) semua perbuatan buruk dan tidak dewasa yang kulakukan selama ini bisa kutinggalkan. Sebaliknya, wanita itu membuat segalanya bertambah hancur.
Sekilas, penampilan Lili yang lugu tak ubahnya orang desa yang awam dengan gemerlapnya kehidupan kota. Ia sangat dewasa dan begitu jauh dari penampilan terbuka. Malah, ketertarikanku padanya berawal dari penampilannya sederhana itu, meskipun ia anak orang berada. Saat itu aku yakin bahwa Lili adalah gadis lugu yang kuimpikan bisa berubah gaya hidupku yang euforia. Tetapi itulah awal mula Cerita sedihku ini.
Kami menikah tahun 2002 lalu. Pernikahan kami awali dengan masa pacaran yang terbilang singkat hanya sekitar 3 bulan. Aku yang sudah matang dalam usia dan mapan dalam pekerjaan,kemudian meminangnya. Orang tua Lili yang sudah kenal betul dengan ayahku yang seorang pengusaha sukses di kota ini, tak berpikir panjang untuk menerima lamaran itu.
Setelah menikah, kami tinggal di rumah pemberian ayahku, yang dihadiahkan sebagai hadiah pernikahanku. Tak semewah rumah orang tua Lili memang, namun asri, sederhana dan cukup untuk membina sebuah keluarga kecil. Dengan dilengkapi sebua mobil sedan, seorang pembantu, aku tak perlu lagi memikirkan apa apa.
Aku betul-betul bahagia bisa menikah dengan gadis pujaanku. Dengan Lili, aku berharap bisa merubah gaya hidupku yang gemerlap, dan kembali menjalani kehidupan normal lanyaknya seorang suami dan ayah bagi anak-anakku kelak.
Namun, impian tak sejalan dengan kenyataan yang harus kutelan. Lili yang kelihatan sederhana, lugu dan seperti tak tahu apa-apa tentang kehidupan malam, malah kelakuannya tak jauh beda denganku. Ia seorang pemuja kehidupan malam, dan setelah menikah pun Lili masih sulit melepaskan diri dari ketergantungan di dunia yang penuh kesenangan semua itu.
Semua kutahu setelah beberapa bulan kami menikah, Lili masih juga menolak untuk punya anak. Ia tak mau direpotkan mengurus anak ia masih ingin bebas menikmati masa-masa mudanya dan tak mau dikekang meski statusnya tak sendiri lagi.
Belakangan, aku makin dibuat bingung karena hampir setiap malam ia dijemput teman - teman gaulnya yang rata - rata anak orang berada. Entah kemana mereka setiap malam, yang pasti kadang kudapati Lili pulang dalam keadaan mabuk. Tak jarang pula di saku bajunya kutemukan pil ekstasi. Sungguh salah satu menduga Lili selama ini. Ternyata, kehidupannya jauh lebih bebas dariku.
Aku dibuatnya tak berkutik ketika kucoba sadarkan dia. Ia selalu menjawabnya dengan enteng." Nikmati saja hidup ini, kenapa mesti susah-susah. Kita memang suami isteri, tapi kamu tidak bisa mengekang kebebasanku. Kalau mau pergi, pergi saja," kalimat inilah yang selalu jadi jawaban dari Lili.
Aku mulai ragu kalau-kalau wanita yang kunikahi ini, tak suci lagi. Karena aku tahu betul kehidupan malam tak bisa dipisahkan dengan kehidupan seks bebas. Aku tahu itu, karena aku pernah menjadi bagian dari kenistaan itu.
Kini, di saat aku belajar untuk melupakan semua masa lalu dan mencoba hidup baru, aku malah diuji lewat istri. Mampukah kuhadapi semuanya ? Entahlah, sampai kapan aku mulai bertahan. Lili makin bebas saja, sampai kadang semalaman tak pulang ke rumah. Beruntung aku belum pernah mendapatinya dengan lelaki lain, sehingga pernikahan tetap coba kupertahankan.
Sumber : konseling.net
PENGAKUAN ISTRI : SENJATA SUAMIKU KUBUAT LOYO
Cerita tentang Perempuan yang Suaminya Doyan Selingkuh..Makanya gw banyak ambil Hikmah cerita ini..hihi
Mungkin kisahku ini bisa dijadikan pelajaran buat para suami yang memiliki kegemaran selingkuh. Juga buat para istri yang menjadi korban perselingkuhan. Seperti perempuan lain pada umumnya, pada awal pernikahan kami, aku merasa keadaan rumah tangga kami selalu baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang sangat romantis dan penuh dengan kebahagiaan. Namun setelah usia perkawinan memasuki tahun ketiga, aku mencium adanya ketidakberesan dengan prilaku suamiku.
Oh, iya sebut saja namaku Helen (nama samaran), saat ini aku sudah dikarunia satu orang anak. Suamiku sebut saja Ari (bukan nama sebenarnya) bekerja sebagai seorang kepala bagian di salah satu perusahaan swasta bertaraf internasional di Jakarta. Pada awalnya Ari merupakan sosok suami yang sangat baik dan pengertian, namun setelah kami dikarunia satu orang anak, sikap Ari secara perlahan mulai berubah.
Awalnya perubahan itu memang tak kucemaskan, karena aku berfikir perubahan itu adalah hal yang wajar, karena ia kini telah memiliki anak, sehingga libidonya pasti akan menurun. Namun semakin hari, prilakunya semakin membuatku bingung dan kecewa. Karena setiap kali aku mencoba merayu dan mencumbunya, ia seolah enggan merespon. Bahkan tak jarang ia membentakku dengan marah.
Namun pada saat-saat tertentu, ia malah terlihat begitu bergairah dan sangat mesra, sikap yang jarang sekali ia perlihatkan sejak ia memiliki anak. Yang membuatku sangat tak nyaman, saat menyetubuhiku ia sama sekali tak mau memandangku, matanya selalu terpejam seolah tengah membayangkan hal-hal lain atau mungkin juga perempuan lain. Sikap yang juga tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan ketika aku bertanya tentang sikapnya itu, ia terlihat begitu gugup dan tak mampu menjawa dengan lancar.
Hal-hal seperti itulah yang akhirnya membuatku curiga dan berprasangka buruk terhadapnya. Namun begitu aku masih berusaha bersabar dan meyakinkan diriku sendiri, bahwa apa yang aku curigai tak akan pernah menjadi kenyataan, sambil aku terus berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ari. Mungkinkah ia berselingkuh atau mungkin juga itu hanya prasangkaku saja.
Dan ternyata kecurigaanku semakin bertambah, manakala Ari semakin hari menunjukan prilaku yang sangat mencurigakan. Ia pernah sekali menyebut nama seorang perempuan saat ia kami sedang bergumul. Saat itu Ari telah mencapai punyak kenikmatannya dan secara tak sengaja menyebut sebuah nama dan yang jelas itu bukan namaku. Saat itu juga aku mendorong tubuhnya yang saat itu masih berada di atas tubuhku.
Malam itu kami bertengkar hebat, suamiku masih tetap berusaha menutupi semua kesalahannya dengan berbagai alasan. Malam itu aku hanya bisa meratapi penderitaanku. Ketika aku tengah mendapatkan kehangatan dan kenikmatan dengan tiba-tiba suamiku menyebut nama perempuan lain. Saat itu aku merasa bahwa suamiku hanya menganggap aku boneka pemuas nafsu yang tak memiliki perasaan yang hanya akan digunakan saat ia berhasrat.
Esoknya, aku membawa anakku pulang ke rumah orangtuaku. Aku tak peduli lagi dengan ulah suamiku yang berselingkuh. Namun di rumah, ayah menasehatiku untuk tak berperasangka buruk sebelum benar-benar mendapatkan bukti yang kuat. �Kamu belum lihat ia bersama perempuan lain kan?� tanya ayahku dan aku hanya bisa menggeleng.
Dan atas saran ayahku juga aku akhirnya menemui �orang pintar� yang katanya mampu mensiasati agar suamiku terbukti berselingkuh dengan syarat, setelah terbukti dan ia meminta maaf aku harus memaafkanya dan menjalani kembali kewajiban-kewajibanku terhadapnya. Orangtua itu lantas memberiku air putih dalam botol yang harus diminum suamiku, bagaimanapun caranya.
Hari itu juga aku kembali ke rumah, kebetulan suamiku belum pulang dari kantornya. Setelah hari menjelang sore, seperti biasa aku menyiapkan air minum di atas meja, cuma kali ini air yang kuberikan adalah air putih pemberian si �orang pintar� itu. Sambil menunggu dengan hati berdebar-debar aku terus berdoa agar Ari tak mencurigaiku dan masih mau meminum air putih yang kuberikan. Saat itu aku khawatir Ari tak pulang ,karena marah atas kepergianku yang tanpa pamit kepadanya.
Saat Ari pulang ia memang menunjukan kekesalannya kepadaku, ia tak menegurku bahkan memalingkan mukanya saat aku berusaha menatapnya. Tapi untunglah Ari meminum air yang sudah aku persiapkan. Lega rasanya melihat Ari menghabiskan air dalam gelas itu. Tapi aku masih was-was dan penasaran dengan khasiat air putih itu. �Apa sih yang akan terjadi dengan suamiku?�
Setelah tiga hari, aku memang mendapati prilaku suamiku yang kembali bersikap hangat kepadaku. Namun sepertinya ia memiliki beban yang sangat berat dan malu mengungkapkannya padaku. Tapi setelah kudesak ia akhirnya mau bercerita, bahwa saat itu ia takut tak bisa melayaniku seperti biasanya karena selama tiga hari belakangan �senjatanya� tak bisa berfungsi. �Ah masa sih mas?� kataku sambil berusaha meraba pangkal pahanya yang tiba-tiba saja bergerak dan bertambah besar. �Makanya jangan suka selingkuh, rasakan tuh akibatnya,� gerutuku dalam hati.
sumber : djady.multiply.com
Baca juga artikel ini :
CERITA DEWASA : MENIKAH TANPA CINTA MEMBUATKU MERANA
Pembaca yang budiman. Kata temanku, aku wanita manis dan seksi, dinikahkan saat baru selesai kuliah D3 di salah satu perguruan tinggi di Kendari. Kira - kira usiaku 20 tahun. Suamiku adalah seorang kepala personalia sebuah perusahaan swasta. Terus terang saja, aku tidak mengenal wataknya. Bayangkan, bertemu pun baru satu minggu menjelang pernikahan. Aku semula menolak, namun karena nasihat ibuku, akhirnya aku terima.
Tahun 1990 aku menikah. Setelah itu, aku diboyong oleh suamiku yang usianya sekitar 10 tahun lebih tua dariku ke rumah orang tuanya. Di sini kami merasakan pahit manisnya berumah tangga dan Cerita ku mulai disini.
Oh ya, nama suamiku adalah Bahar (bukan nama sebenarnya). Sebulan setelah menikah, barulah aku mulai tahu sifat suamiku yang ternyata terlalu kekanak-kanakan. Maklum saja, dia adalah anak tunggal. Bahkan, dia tidak pernah protes ketika kedua orang tuanya ikut-ikutan dalam urusan rumah tangga kami. Sebagai orang tua, kalau ada masalah di rumah tanggaku, mereka selalu menyalahkanku aku, tanpa melihat permasalahannya. Aku acapkali jadi "terdakwa" dalam "persidangan" mereka.
Mungkin karena pada dasarnya aku tak mencintainya, aku selalu protes setelah 'disidang'. Aku tak mau terima diperlakukan seperti itu. Sebagai suami, seharusnya Bahar lebih dewasa dariku. Masa masalah rumah tangga, sekecil apapun itu, selalu dilaporkan pada orang tuanya.
Apalagi kalau aku berbuat salah. Wah, bisa tiga hari tiga malam aku kena omelan mertua. Berbagai nasihat akan dikeluarkan mereka secara bergantian. Aku dibuatnya tak berkutik. Mulutku sudah pegal menyunggingkan senyum keramahan. Sementara dadaku bergolak karena marah.
Suatu hari aku kena 'semprot' lagi. Gara-garanya, aku kesal sama anakku yang menangis terus-menerus. Aku marahi dia. Tapi tidak sampai memukul. Tiba-tiba, Bahar menghampiriku. Diraihnya anakku dengan sedikit kasar. Kukira dia ikut mengomeli anak itu. Nyatanya, dia malah memarahiku. "Bukan begitu mengajari anak. Kamu ini bisa apa tidak sih mengurus anak?" katanya sembari ngeloyor pergi.
Mungkin caraku ngajari anak kurang benar, tapi seharusnya Bahar memahami aku yang capek seharian mengasuh dia. Aku marah saking lelahnya.
Dan lagi-lagi aku 'diadili'. Bahar mengadukan masalah itu kepada kedua orang tuanya. Aku muak dengan mulutnya yang nyinyir. Aku minta cerai kepada Bahar, tapi dia menolak. Karena tak tahan, aku nekat kabur dari rumah membawa putriku. Kami kembali ke rumah orangtuaku, sampai sekarang
Sumber : konseling.net
Baca juga artikel ini :
CERITA DEWASA : SUAMI JUALAN ROKOK ISTRI DIBONCENG PRIA LAIN
Siapa yang tak merasakan sakit hati, saat orang yang paling disayang bermesraan dengan orang lain. Begitupun yang dialami oleh Peto. "Perasaan ku begitu hancur saat melihat dia jalan dengan pria lain. Dan aku begitu kesal, tapi ia tetap pergi dengan lelaki itu walau ia melihatku," curhat Peto.
Lebih jauh peto menceritakan, beberapa bulan lalu, saat anaknya masih tergolek sakit dan ia bekerja berjualan rokok, secara tak sengaja, di jalan ia melihat sang istri sedang jalan dengan pria lain.
Awalnya ia tak percaya jika yang dilihat oleh kedua matanya adalah sang istri tercinta. Tapi setelah mencoba mendekat, bagai disambar petir, dengan mata kepala sendiri, Peto memergoki istrinya sedang jalan dengan pria sambil mengendarai sepeda motor.
Melihat hal itu, Peto mengaku emosi dan langsung melabrak sang istri. Namun, sang istri yang melihat Peto justru tak menanggapi emosi Peto. Bahkan menurut Peto, justru sang istri menertawainya. "Aku pikir ketika dipanggil dan didekati, ia bakalan pulang dan langsung meminta maaf. Tapi apa yang terjadi, justru ia tertawa di atas sepeda motor yang dinaikinya."
Sejak saat itulah, pikiran Peto semakin bertambah berat. Di saat dirinya berjuang untuk bisa menyembuhkan sakit putrinya, ia sendiri justru yang harus menanggung sakit. Namun ia tetap tabah dan sabar. Meski sang istri kadang dinilainya sudah keterlaluan.
"Pernah, ketika ibu menggendong anakku yang sakit, direbut oleh istriku dengan paksa. Katanya dia rindu sama Aisyah. Tapi, ada makian yang dilontarkannya ke ibu agar jangan menjaga anak kami. Karena itulah, ibu jadi tersinggung," terangnya menambahkan.
Yang Penting Berusaha
Peto sepertinya menyadari betul arti sebuah karma dalam kehidupan. Buktinya, secara terang-terangan ia mengaku merasa menyesal dengan semua kelakuan yang pernah ia lakukan sewaktu masih muda. Dan sekarang inilah ia mencoba untuk memerbaiki diri. "Aku akui, dahulu Aku sering judi, minum-minuman keras. Bahkan pacar banyak, sering gonta-ganti."
Dan karena Anisa-lah,(sang istri) yang membuat perilakunya berubah. Sejak mengenal Anisa, Peto mengaku mulai meninggalkan kebiasaan buruknya. Ia seperti menemukan sang bidadari yang sudah lama dicarinya. Merasa cocok dapat membina rumah tangga dengan bahagia, Peto akhirnya mengawini Anisa. Pernikahan yang awalnya dibayangkan akan dapat mendatangkan kebahagiaan itu, kini sudah di ujung tanduk.
"Semua itu tidak seperti yang Aku bayangkan sebelumnya, Sebenarnya Aku sudah mau minta cerai, tapi ada pesan dari orangtua agar tidak bercerai. Karena masih ada anak yang lebih penting karena masih kecil-kecil," serunya. "Aku sangat sayang dengan mereka. Makanya Aku rela bekerja malam hingga pagi, bahkan seharian demi dapat uang untuk keluarga dan biaya obat anak," tambahnya lagi.
Jika melihat kondisi Aisyah, Peto merasa tidak tega. Jika usaha yang ia lakukan tidak juga memberikan hasil positif, Peto mengaku hanya pasrah. "Aku takut bila Tuhan mengambil nyawanya. Tapi Aku kan juga tidak bisa menentang kehendak Tuhan. Semua Aku serahkan kepada yang di Atas. Yang pasti Aku sudah berusaha melakukan hal terbaik untuk keluarga," pungkasnya.
Sumber : harian-global.comBaca juga artikel ini :
PENGALAMAN : PEMBANTU NAKAL
Saya baru saja dapat pengalaman buruk. Pembantu saya (21 thn) ketahuan sukaajak pacarnya siang2 ke rumah saat saya & suami sedang bekerja, padahal anak saya (11 bulan) sedang dititipkan ke dia, dan pas bulan puasa pula! Bisa dibayangkan dong dianya indehoy di salah satu kamar sementara anak saya entah dikemanain.
Pantas saja saya heran, kok sprei yg kamar itu rajin diganti, pdhl sprei kamar dia aja gak pernah diganti. Duh, saya jijik banget membayangkannya. Padahal saya sudah wanti2 jangan pernah terima tamu kalau sedang tidak ada saya & suami di rumah (kecuali sodara deket). Saya bilang di komplek ini kelihatannya saja sepi, padahal matanya banyak. Saya jadi nawaitu buat pasang cctv / kamera di rumah untuk menghindari hal serupa.
Pantas saja saya heran, kok sprei yg kamar itu rajin diganti, pdhl sprei kamar dia aja gak pernah diganti. Duh, saya jijik banget membayangkannya. Padahal saya sudah wanti2 jangan pernah terima tamu kalau sedang tidak ada saya & suami di rumah (kecuali sodara deket). Saya bilang di komplek ini kelihatannya saja sepi, padahal matanya banyak. Saya jadi nawaitu buat pasang cctv / kamera di rumah untuk menghindari hal serupa.
Belum lagi dia suka nyebar fitnah, bilang sama orang lain kalo kelaparan di rumah saya. Padahal beras ada sekarung, indomie ada 2 dus, ayam 1 ekor nggak habis2 dimasak (sampe sekarang masih ada di freezer), telur, korned, sarden, sosis, sayuran segar, bahkan uang belanja pun saya sediain. Masa saya yang harus masak pagi buta buat dia sahur? (Sementara saya & suami tidak puasa karena bukan muslim).
Padahal dari pertama sudah saya bilang di sini bebas mau makan apa aja, dan kalau ada uneg2 atau butuh apa2 ngomong langsung ke saya jangan takut nggak enak / dimarahin. Daripada ngomongnya ke orang lain belum tentu membantu, malah nggak ada gunanya dan nambah dosa kan ngomongin orang di belakang.
Padahal dari pertama sudah saya bilang di sini bebas mau makan apa aja, dan kalau ada uneg2 atau butuh apa2 ngomong langsung ke saya jangan takut nggak enak / dimarahin. Daripada ngomongnya ke orang lain belum tentu membantu, malah nggak ada gunanya dan nambah dosa kan ngomongin orang di belakang.
Pas dia mau pulang Lebaran kemarin saya kasih THR plus sendal & oleh2 lain buat ortunya, meski dia baru kerja 1 bulan 1 minggu. Eh dia masih ngedumel ke orang lain karena katanya gajinya yg seminggu nggak dibayarin. Lha kan dia janjinya mau balik, ya gajiannya nanti dong pas tanggalnya gajian.
Masa kalo kita mau Lebaran trus minta sama boss supaya gaji kita yg tgl 1-12 dibayar dulu? Mana ada begitu. Ya tunggu sampe akhir bulan dong baru dapet gajian, itupun untung karena berarti 2 minggu dia cuti tapi masih digaji. Asli saya sakit hati mendengar semua omongan dia tentang saya dari orang2 yang saya percaya. Saya yakin mereka semua ngomong apa adanya tanpa rekayasa karena detail2nya jelas.
Masa kalo kita mau Lebaran trus minta sama boss supaya gaji kita yg tgl 1-12 dibayar dulu? Mana ada begitu. Ya tunggu sampe akhir bulan dong baru dapet gajian, itupun untung karena berarti 2 minggu dia cuti tapi masih digaji. Asli saya sakit hati mendengar semua omongan dia tentang saya dari orang2 yang saya percaya. Saya yakin mereka semua ngomong apa adanya tanpa rekayasa karena detail2nya jelas.
Untunglah Bapak & Ibu yg menyalurkan dia orangnya baik. Bapak itu janji akan mengganti dengan yg lain, istrinya akan bawa banyak orang baru tanggal 20 Okt ini. Dia juga bilang bakal marahin si pembantu nakal ini supaya mulutnya tidak kebiasaan. Mereka tetanggan di kampung. Yah, saya cerita ini semua untuk share aja ke moms & dads supaya hati2 kalau dapat pembantu nakal seperti ini.
Saya yakin tidak ada moms & dads yang mau rumahnya dijadikan tempat mesum sementara ada anaknya yg masih kecil di rumah, ya kan? Apalagi kalau kita sudah berbaik2 ke dia, malah difitnah segala macam. Tidak ada maksud menjatuhkan si pembantu, karena saya bicara fakta apa adanya. Ini sekalian saya attach scan KTPnya, kalau tidak bisa dibuka berikut data2nya:
Saya yakin tidak ada moms & dads yang mau rumahnya dijadikan tempat mesum sementara ada anaknya yg masih kecil di rumah, ya kan? Apalagi kalau kita sudah berbaik2 ke dia, malah difitnah segala macam. Tidak ada maksud menjatuhkan si pembantu, karena saya bicara fakta apa adanya. Ini sekalian saya attach scan KTPnya, kalau tidak bisa dibuka berikut data2nya:
Nama : Aliyah Bt Waslim
TTL : Tegal, 06 April 1986
TTL : Tegal, 06 April 1986
Alamat : RT/RW 03/08 Desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kab Tegal.
Tinggi sekitar 160cm, berat sekitar 48kg, mata belo melotot, gigi agak maju, rambut sebahu sering diikat, pakaian ketat2 dan kelakuannya genit sekali.
Semoga dia disadarkan dan tidak ada lagi yang dirugikan seperti yg sudah dialami keluarga kecil saya. Saya juga berdoa supaya dapat pembantu pengganti yg baik dan tidak macam2.
Salam,
Mamanya Michelle
Sumber : Milis ayahbunda-online@yahoogroups.com
Baca juga artikel ini :








