Showing posts with label KELUARGA. Show all posts
TERNYATA ISTRIKU LESBIAN
WOW! Aneh tapi nyata, mungkin itu seharusnya judul dari tulisan ini. Ini bukan sekedar selingkuh biasa, tetapi lebih dahysat lagi. Selingkuh dengan sesama jenis. Yang lebih mencengangkannya lagi, disetujui pula oleh suaminya�.
Pernah dengar selentingan tetapi tidak terlalu percaya sampai akhirnya kejadian. Seorang sahabat dari bangku kuliah, Nanda namanya, yang baru kawin enam bulan yang lalu, memberikan sebuah pengakuan yang mengejutkan. Dia mengaku punya pacar seorang perempuan cantik bernama Saskia sejak dua bulan lalu dan sudah mendapat persetujuan dari suaminya.
Tadinya saya pikir dia hanya mengada-ada saja, tetapi dari wajahnya yang tampak serius, sepertinya dia tidak bohong. Apalagi kemudian dia memperkenalkan Saskia kepada saya. Tidak hanya itu, dia pun memperkenalkan saya kepada beberapa wanita anggota �geng� mereka yang menganut aliran sepaham.
Rasa iba yang sangat besar muncul dari lubuk hati yang paling dalam mengingat apa yang terjadi akibat rasa sepi di hati Nanda. Kemudian muncul rasa takut dan curiga yang tidak kalah besarnya. Jangan-jangan� dari dulu dia lesbian! Padahal kita dulu suka tidur bareng, ganti baju rame-rame, peluk-pelukan� TIDAKKKKK !!!!
Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana saya harus bersikap? Tolong berikan saya jawaban agar mulut yang terkunci rapat dan tubuh yang sepertinya sudah tak bertulang ini bisa berfungsi lagi.
Ayo Mariska! Semangat-semangat!! Berpikir positif! Positif� positif� positif�
Setelah berhari-hari gelisah memikirkan apa yang terjadi, akhirnya saya mendapat jawaban yang saya anggap dari Tuhan. Sebuah buku yang tergeletak di atas meja kerja saya terbuka, dan sepenggal kalimat langsung menarik perhatian saya. ��Ideal society is a drama enacted in the imagination�� The Life of Reason, George Santayana, halaman 150. Bagi saya, artinya adalah tidak mungkin bagi kita untuk selalu mendapatkan segala sesuatunya sesuai dengan yang kita inginkan. Semuanya hanya bisa terwujud di kepala saja, sedangkan kenyataannya kita harus lebih realistis.
Bukan hak saya untuk menilai dia, begitu juga memaksanya untuk berubah. Adalah kewajiban saya untuk membuka mata hati dan pikirannya. Biarpun kecil usaha yang saya lakukan, tetapi lebih baik daripada duduk diam dan berpangku tangan. Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberi sedikit pencerahan seks kepada �geng aneh� ini.
Di hari yang telah ditentukan bersama, saya pun mengunjungi sebuah cafe tempat geng ini biasa berkumpul. Rasanya sedikit aneh. Dari rumah siap-siap akan bertemu dengan wanita-wanita tomboy berdandan ala punk dengan tindikan di mana-mana, tapi kok yang ada justru kaya ibu-ibu arisan. Cantik-cantik, rapih-rapih, harum-harum, dan genit-genit. Ngerumpi sana, ngerumpi sini. Terlalu biasa untuk dibilang aneh.
Setelah basa-basi, �ceramah� pun dimulai. Pertama-tama, saya bertanya, �Siapa di antara ibu-ibu, mbak-mbak, sekalian yang merasa lebih aman menjadi lesbian dibandingkan selingkuh dengan banyak pria?�. Persis seperti dugaan saya, 100% dari mereka yang jumlahnya mendekati angka 50 orang ini menjawab dengan yakin, �Pastinya, dong!
Saya pun melanjutkan dengan penjelasan bahwa apa yang mereka pikir itu tidak sepenuhnya benar. Seorang lesbian pun memiliki resiko tertular penyakit kelamin, HIV, dan AIDS. Terlebih lagi jika mereka tetap melakukan hubungan seks dengan suami-suami mereka. Resikonya jadi dua kali lebih besar lagi.
Seks oral yang mereka biasa lakukan pun memiliki resiko yang tinggi bila tidak mengindahkan kebersihan mulut dan tubuh. Mulut dan tangan yang kotor bisa membawa virus, bakteri, dan kuman penyebab penyakit lainnya masuk kedalam tubuh. Penyakit kelamin seperti herpes pun bisa tertular lewat cara ini. Untuk lebih mendramatisir, saya minta mereka membayangkan luka seperti bisul akibat herpes yang biasanya ada di alat vital, pindah ke mulut dan seputar bibir mereka. Hehehe� banyak yang stress!
Resiko terjadinya kerusakan alat vital dan organ seksual lainnya akibat penggunaan �alat bantu� seperti dildo dan vibrator dengan tidak benar juga bisa terjadi. Bayangkan bila harus dilakukan vagina plasti hanya karena dinding vagina menjadi rusak dan robek seperti saat melahirkan anak. �Aduh, sakitnya!� teriak salah satu dari mereka.
Belum lagi efek psikologis yang timbul akibat tekanan dari luar, kurangnya rasa percaya diri, rasa bersalah, benci, dendam, dan masalah lainnya yang berakumulasi menjadi satu. Membohongi diri sendiri memiliki efek psikologis negatif yang besar terhadap kejiwaan seseorang. Tidak sedikit yang akhirnya merasa dikucilkan, stress, dan buntut-buntunya masuk Rumah Sakit Jiwa. Semua cuma diam dan ada juga yang terbengong-bengong.
Perkembangan psikologis anak pun harus dipikirkan. Kita sebagai orang tua tidak boleh egois, karena bagaimanapun juga, seberapa pintarnya kita menutupi masalah, seorang anak tetap bisa �merasa�. Bila ada sesuatu yang tidak benar dan salah dalam sebuah rumah tangga, seringkali anak yang akhirnya menjadi korban terparah.
Saya tidak meminta mereka untuk kemudian segera berubah pikiran, tetapi saya minta mereka untuk merenung sejenak apa yang telah dibahas sebelumnya. Apapun keputusan yang mereka ambil, tetap akan saya hargai. Toh, semua resikonya mereka yang harus tanggung sendiri.
Sebuah pelajaran yang tak ternilai artinya bagi saya. Semoga juga bisa memberikan banyak manfaat bagi semua
sumber : kesehatan.kompasiana.com
sumber : kesehatan.kompasiana.com
Baca juga artikel ini :
CERITA ISTRI : SUAMIKU TERNYATA...
Aku ingat hari pertama pernikahan kami. Aku dengan lingerie hijau toska meringkuk di ranjang pengantin sedemikian rupa sehingga terlihat menggoda. Bulu-bulu halus di tubuhku sudah aku babat habis supaya tidak lagi menjadi penghalang antara kulitku dan kulit suamiku. Sepuluh menit..dua puluh menit..tiga puluh menit..suamiku tak kunjung keluar dari kamar mandi. Akhirnya pada malam pertama yang sakral itu aku malah tertidur pulas dengan posisi yang jauh dari kesan menggoda.
Aku juga ingat pada minggu pertama pernikahan kami. Kami tidak berbulan madu seperti layaknya pasangan suami istri yang baru menikah. Sehari setelah menikah, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Alasannya, urusan kantor sedang sibuk-sibuknya dan tidak bisa ditinggal. Sedangkan aku sudah resmi menjadi 100% Ibu Rumah Tangga.
Meninggalkan karirku adalah sesuatu yang berat bagiku, tapi permintaan suamiku sebelum kami menikah terpaksa aku iyakan. Saat itu anganku dibawanya tinggi. Empat orang anak, sebuah rumah besar dengan halaman luas, mobil, dan uang belanja yang jauh lebih besar dari gajiku. Alasanku untuk terus berkarir seperti menguap begitu saja.
Setiap hari aku menjalankan peranku sebagai istri dengan sempurna. Bangun lebih awal dari suamiku, menyiapkan sarapan dan keperluannya ke kantor. Selalu menjaga kerapihan rumah karena suamiku akan marah-marah kalau melihat rumah kami berantakan. Menyiapkan makan malam sebelum suamiku pulang dari kantor. Hal terakhir yang tidak boleh terlupakan, untuk tampil rapih dan wangi saat menyambut suamiku pulang. Wajahnya akan berubah ketus kalau melihatku dengan daster dan wajah berminyak dan mencium bau keringatku. Dalam minggu pertama, aku sudah hapal dengan ritualku sehari-hari.
Suamiku seringnya pulang jam sembilan malam. Setelah makan malam, biasanya suamiku akan berselonjor di sofa di depan TV. Sedangkan aku menunggu dengan cemas apakah malam ini akan berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Jam sebelas..jam dua belas..aku sudah mulai mengantuk. Aku menunggunya di kamar tidur kami, mencoba tetap terjaga.
Tapi selalu gagal, sehingga saat aku terbangun aku sadar aku sudah melewatkan lagi kesempatan �malam pertama� kami yang sudah tertunda selama hampir seminggu. Pada malam keenam, aku berhasil melawan rasa kantuk sampai akhirnya suamiku masuk ke kamar kami. Jam satu malam. Aku ingat suamiku berusaha menyembunyikan keterkejutannya saat mengetahui bahwa aku belum tertidur. Aku sudah berancang-ancang dengan posisi menggoda andalanku. Tapi tanpa menoleh sedikit pun suamiku beranjak ke kamar kerjanya, �Ada tugas kantor yang harus diselesaikan�. Gagal lagi.
Masih juga bisa kuingat bulan pertama pernikahan kami. Aku semakin mengenal watak suamiku. Dia tidak suka perhatianku yang melimpah. Dia seperti tidak ikhlas saat menerima kecupan mesraku mengantar kepergiannya ke kantor. Kalau aku bertanya jam berapa dia akan pulang, jawabannya hanya senyum ketus. Sejak kejadian malam keenam, suamiku pulang lebih larut malam dan tidak menentu.
Kadang-kadang jam sepuluh malam, sering juga sampai tengah malam. Dia juga lebih suka menghabiskan akhir pekan di luar rumah. Beberapa kali dia mengajakku berlibur ke tempat-tempat wisata, menginap di hotel-hotel mewah, makan di restoran-restoran mahal, namun selalu diakhiri dengan malam di ranjang yang dingin. Tidak jarang dia membanjiriku dengan pujian di depan teman-temanku, teman-temannya, dan kerabat famili kami. Tidak sedikit hadiah-hadiah kejutan yang dia belikan untukku. Namun tidak satu pun dari semua itu yang kemudian membawa kami pada malam yang indah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada bulan keenam pernikahan kami, aku dan suamiku bertengkar mulut untuk pertama kalinya. Mungkin wanita lain akan lebih cepat bereaksi ketimbang aku yang terlalu berhati-hati menjaga perasaan suami. Aku timbang-timbang, inilah timing yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku. Enam bulan sudah sangat cukup untuk membuktikan aku istri yang penyabar dan pengertian. Malam itu, persis setengah tahun pernikahan kami.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada bulan keenam pernikahan kami, aku dan suamiku bertengkar mulut untuk pertama kalinya. Mungkin wanita lain akan lebih cepat bereaksi ketimbang aku yang terlalu berhati-hati menjaga perasaan suami. Aku timbang-timbang, inilah timing yang tepat untuk mengutarakan isi hatiku. Enam bulan sudah sangat cukup untuk membuktikan aku istri yang penyabar dan pengertian. Malam itu, persis setengah tahun pernikahan kami.
Aku berusaha bicara seringan mungkin saat kami sedang makan malam. Bahwa tidak terasa sudah enam bulan kami hidup bersama. Bahwa begitu cepat hari berganti hari, bulan berganti bulan. Suamiku hanya mengangguk-angguk sambil terus menikmati makanannya. Tak lagi peduli dengan harga diriku, sekonyong-konyong aku melontarkan pertanyaan yang selama ini mengendap di benakku, � Apa Mas tidak tertarik untuk berhubungan seks denganku?�.
Seketika itu juga suamiku yang tadinya tidak mengacuhkan arah pembicaraanku, menghujamkan tatapannya yang merendahkan ke wajahku. Tak lagi berselera dengan santapan malam itu, sama sekali tidak berusaha untuk menjawab pertanyaanku, suamiku bangkit berdiri dan seperti tidak jelas dengan apa yang mau dilakukannya. Aku sudah terlanjur mengangkat masalah ini ke permukaan, maka aku bertekad tidak akan membiarkan ketidakjelasan ini terus berlanjut. Kuikuti suamiku yang berusaha menghindar menuju ke kamar kerjanya.
�Apa Mas tidak pernah berpikir bahwa suatu saat aku akan menanyakan hal ini?�
�Apa Mas hanya menganggap aku sebagai Pembantu Rumah Tangga saja, yang hanya berfungsi untuk mengurus rumah, keperluan Mas sehari-hari, tapi tidak lebih dari itu?�
�Apa Mas menikahiku hanya untuk mendapatkan status saja, sebagai seorang suami?�
Tamparan tajam mendarat di pipi kananku. Aku jatuh terduduk, bukan karena kerasnya pukulan barusan, tapi karena energi yang sebelumnya begitu besar tiba-tiba habis tersedot oleh amarahku sendiri. Melihatku sudah tak berdaya, suamiku mengeluarkan serangan balik.
�Lantas kamu maunya apa, hah?�
�Kamu pikir aku gak mampu melayanimu di ranjang, hah?�
�Apa diotakmu yang namanya pernikahan hanya sebatas seks saja, hah?�
Aku hanya bisa terisak-isak tetap duduk di lantai tempat aku terjatuh. Entah setan apa yang merasuki suamiku, saat itu dia menarik aku berdiri. Menyeretku ke kamar tidur kami. Mendorongku jatuh ke ranjang.
�Buka bajumu! Atau perlu aku yang membukakan?!�, gertakan suamiku keras dan mengerikan. Dalam satu gerakan dia sudah menelanjangi dirinya sendiri. Sedangkan aku hanya bisa terpaku, tidak menentu apa yang harus kulakukan. Haruskah aku membuka bajuku dan melayani suamiku seperti yang aku inginkan selama ini? Tamparan tadi, gertakan suamiku, dan kemarahanku menahan keinginanku untuk menjalan tugasku sebagai seorang istri yang patuh dan berbakti. �Aku tidak mau melakukannya dengan terpaksa seperti ini�. Malam itu kami tidur di kamar yang berbeda.
Seminggu setelah kejadian itu, amarah kami mulai mereda. Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku tetap menjalankan tugasku mengurus keperluan rumah tangga walaupun dalam diam. Tidak ada sapaan hangat atau kecupan mesra saat suamiku berangkat maupun pulang kerja. Aku menjalani semua itu dengan ketidakyakinan akan masa depan kami. Apakah akan datang saatnya dimana rumah ini tidak hanya dihuni oleh kami berdua? Sampai kapan kami bisa bertahan sebagai suami istri seperti ini? Apakah kami bahagia?
Tepatnya dua minggu setelah pertengkaran kami, suamiku masuk ke kamar tidur lebih awal. Aku baru saja bersiap-siap tidur. Suamiku tidak mematikan lampu kamar seperti biasanya, malahan menyetel lagu lembut dari DVD player di kamar kami. Aku terus mengikuti gerak-geriknya, sampai tiba-tiba ciuman mesra mendarat di pipiku. Diteruskan ke bibirku, ke leherku. Aku ingat aku kaku seperti mayat saat itu, hanya mengikuti kehendak suamiku. �Malam pertama� kami akhirnya terlaksana dengan penuh tanda tanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak malam itu, aku seperti gadis perawan yang sedang jatuh cinta. Aku tersipu-sipu jika bertatapan mata dengan suamiku. Aku semakin perhatian terhadap suamiku, yang ditanggapi acuh tak acuh seperti biasa. Aku gelisah jika suamiku pulang terlambat, dan sama gelisahnya ketika suamiku pulang lebih awal. Aku rela menunggu sambil terkantuk-kantuk di tempat tidur, walaupun seringkali kecewa saat suamiku memilih untuk langsung tidur.
Aku tidak pernah mengharapkan hubungan seks yang liar. Aku perempuan Asia dari keluarga kolot yang selalu diajarkan untuk bersikap pasif di depan suami. Suamiku dengan wataknya yang dingin selalu menjalankan ritual keintiman kami dengan fase-fase yang monoton. Foreplay secukupnya, membiarkan aku mencapai orgasme lebih dulu, kemudian menyudahinya tanpa pernah membiarkan dirinya terpuaskan. Awalnya aku pikir wajar saja.
Tapi setelah berlangsung bulan demi bulan, aku mulai bertanya-tanya kembali. Apakah ini sekedar upaya suamiku agar aku tidak lagi protes? Lalu untuk apa semua ini? Untuk apa menjalani rumah tangga seperti ini? Tidakkah suamiku menginginkan buah hati seperti yang pernah dikatakannya dulu saat melamarku?
Lalu pada malam tahun pertama pernikahan kami, malam yang seharusnya membahagiakan bagi pasangan muda, kami bertengkar untuk yang kedua kalinya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak pertengkaran hebat malam itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kami. Malam itu juga aku pergi meninggalkan suamiku. Meninggalkan adat yang mengharuskan istri patuh kepada suami. Meninggalkan harapan-harapanku terkubur di rumah itu. Bagiku sudah tidak jelas lagi gambaran seorang istri yang berbakti.
Lalu pada malam tahun pertama pernikahan kami, malam yang seharusnya membahagiakan bagi pasangan muda, kami bertengkar untuk yang kedua kalinya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejak pertengkaran hebat malam itu, aku tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kami. Malam itu juga aku pergi meninggalkan suamiku. Meninggalkan adat yang mengharuskan istri patuh kepada suami. Meninggalkan harapan-harapanku terkubur di rumah itu. Bagiku sudah tidak jelas lagi gambaran seorang istri yang berbakti.
Sejak saat itu pula, aku tinggal di rumah peninggalan orangtuaku yang sudah lama kosong. Sejak ibuku meninggal lima tahun yang lalu, aku meninggalkan rumah ini kosong dengan meminta bantuan seorang kerabat untuk menengoknya sesekali. Sedangkan aku tinggal di rumah pamanku bersama istrinya dan anak-anak mereka di kota lain dimana aku melanjutkan pendidikanku sampai mendapat gelar sarjana. Di kota ini pula aku berkenalan dengan suamiku, seorang teman dari temanku.
Tampan, berpendidikan baik, berkedudukan tinggi di kantornya, dan berasal dari keluarga yang terhormat. Usianya 35 tahun saat berkenalan denganku, sedangkan aku baru 25 tahun. Hanya dalam waktu dua bulan, dia sudah mulai menyatakan keseriusannya denganku. Keluarga pamanku sangat mendukung hubunganku dengannya yang terlihat begitu santun di depan mereka.
Sedangkan keluarga suamiku tidak segan-segan langsung meminta persetujuan pamanku sebagai waliku untuk menikahiku dengan anak kesayangan mereka. Saat itu aku tidak menyempatkan diriku bertanya ke dalam hatiku sendiri, apakah aku mau menikahinya karena mencintainya, ataukah hanya karena kelebihan-kelebihannya? Semua berjalan begitu cepat, sampai-sampai aku pun terlupa menanyakan satu pertanyaan yang paling penting, �Apakah dia mencintaiku?�
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih ingat minggu pertama sejak aku meninggalkan rumah suamiku. Aku hanya tinggal sendirian. Tidak ada yang tahu aku tinggal di sini, bahkan keluarga pamanku. Kepada kerabat yang biasanya datang membersihkan rumah ini kukatakan aku sedang berlibur beberapa minggu. Aku benar-benar mengucilkan diriku sendiri.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku masih ingat minggu pertama sejak aku meninggalkan rumah suamiku. Aku hanya tinggal sendirian. Tidak ada yang tahu aku tinggal di sini, bahkan keluarga pamanku. Kepada kerabat yang biasanya datang membersihkan rumah ini kukatakan aku sedang berlibur beberapa minggu. Aku benar-benar mengucilkan diriku sendiri.
Tidak keluar rumah sama sekali. Makan seadanya. Tidak mandi, tidak juga mengganti pakaianku. Kerjaanku hanya meringkuk di tempat tidur, kemudian tertidur beberapa jam, terbangun, kemudian tertidur lagi. Entah apa yang ada dipikiranku. Kadang-kadang aku berpikir tentang betapa bencinya aku pada suamiku, terkadang merasa kasihan terhadapnya. Tapi pernahkah ia merasa kasihan terhadapku?
Aku juga masih bisa ingat minggu-minggu berikutnya dari kehidupan nerakaku. Pikiranku semakin tidak karuan. Aku semakin tidak mengenal waktu. Kapan Senin, kapan Minggu. Kapan pagi, kapan siang. Pernahkah suamiku berusaha menghubungiku? Mencariku ke rumah ini? Patutkah aku meneleponnya? Dimana handphone-ku? Ruang sudah tak jelas juga bagiku.
Apakah suamiku masih peduli denganku? Apakah dia pernah mencintaiku? Apakah aku pernah mencintainya? Kenapa aku merindukannya tapi juga membencinya? Aku menangis, tapi anehnya aku juga tertawa-tawa. Apa yang salah denganku?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Entah sudah minggu keberapa sejak malam itu, saat aku menyaksikan kejadian yang membawaku ke dalam penderitaan ini. Malam itu, malam tahun pertama pernikahan kami. Aku bermaksud membuat kejutan untuk suamiku di kantornya. Berbekal kue tart buatanku, dengan dandanan sedikit istimewa, aku nekat datang ke kantornya yang mungkin justru akan membuat suamiku jengkel. Aku lihat sekretarisnya, seorang pemuda yang tampan dan seumuran denganku, sedang tidak di mejanya. Mungkin dia sedang di dalam ruangan suamiku untuk mendiskusikan sesuatu. Apakah sebaiknya aku menunggu? Ah, biar saja. Aku kan bermaksud memberikan kejutan.
Tapi kejutan itu ternyata bukan untuk suamiku, melainkan untukku. Di ruangan itu, di hari istimewa itu, aku melihat suamiku dan sekretarisnya yang tampan itu sedang hanyut dalam ciuman yang begitu panas. Apakah aku bermimpi? Suamiku sedang menikmati percintaannya dengan kekasih gelapnya selama ini.
Bukankah ini cuma sekedar cerita murahan di novel-novel yang suka aku baca? Tapi kenapa hal ini bisa terjadi padaku? Suamiku seorang gay. Suamiku lebih mencintai lelaki itu daripada istrinya sendiri, aku. Aku..aku..sudah tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Apakah itu hanya mimpiku saja? Aku berharap itu hanya mimpi saja.
Tapi bukankah aku seharusnya di rumah suamiku saat ini menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Tapi kenapa aku di ruangan sempit dan serba putih ini dengan tangan terikat membalut tubuhku?
Sumber : riopunyacerita.blogspot.com
CERITA ISTRI SELINGKUH GARA-GARA FACEBOOK
Sejatinya kemajuan teknologi informasi adalah untuk memudahkan manusia. Namun ketika kemudahan itu sudah didapat, teknologi informasi tersebut dapat pula disalahgunakan. Situs jejaring sosial Facebook adalah salah satu produk teknologi yang dapat disalahgunakan bukan hanya pria, bahkan seorang wanita. Seperti dalam kisah berikut tentang pengakuan seorang istri yang selingkuh melalui Facebook.

Lima belas tahun sudah aku menikah dengan Mas Bambang. Selama itu pula hubunganku dengan Bambang sangat harmonis. Apalagi dengan kehadiran tiga buah hati kami. Namun, petaka di dalam keluargaku mulai muncul tatkala aku mengenal Facebook (FB). Gara-gara jejaring sosial inilah impianku untuk membangun rumah tangga yang utuh berantakan. Aku yang sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga tergoda dengan rayuan lelaki lain melalui FB.
Cerita ini berawal ketika 2010 lalu aku diperkenalkan oleh suamiku tentang Facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang, karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah.
Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku. Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu.
Wajahku memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 37 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di Facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalanlebih jauh denganku. Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami, Sehingga mereka tidak pantas untuk menyukaiku
Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Tommy semuanya berubah.
Cerita ini berawal ketika 2010 lalu aku diperkenalkan oleh suamiku tentang Facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang, karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah.
Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku. Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu.
Wajahku memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 37 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di Facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalanlebih jauh denganku. Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami, Sehingga mereka tidak pantas untuk menyukaiku
Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Tommy semuanya berubah.
Tommy adalah seorang PNS yang mendapat beasiswa S2 tingkat akhir salah satu PTN , berasal dari luar Jawa. Wajahnya tampan setampan suamiku, cerdas dan kaya. Dari postingannya aku dapat menilai, ia lelaki yang sudah menikah ini sangat religious. Tommy betul-betul mampu menggoyahkan imanku.
Bahasanya yang santun, dan caranya ia memerhatikanku di Facebook telah membuat hati ini luluh. Setiap hari kami ngobrol lewat facebook. Bahkan kami saling bertukar pikiran tentang rumah tangga kami masing-masing.
Ya�boleh dibilang kami saling curhat-curhatan. Dari sinilah perasaan aneh muncul, baik saya maupun Tommy. Akhirnya, Tommy menyatakan sayangnya lewat chat dan ingin berjumpa denganku.
Aku yang sejak awal sudah tertarik dengan Tommy tak mampu menolaknya. Namun, aku masih malu-malu menyatakan suka kepadanya.
Setelah sekian bulan hanya chat di facebook, kami pun sepakat untuk bertemu. Kami kemudian melakukan pertemuan di salah satu restoran di dikawasan timur Jakarta. Saat itu Tommy datang seorang diri, sementara aku membawa anak bungsuku.
Walaupun, aku menyukainya, aku tak ingin pertemuan kami menimbulkan fitnah. Perasaanku deg-degan saat bertemu dengan Tommy. Ia pun menyapaku dengan suara berat. Ada yang lain muncul di dalam hatiku. Di tempat itu, Tommy pun kembali menyatakan ketertarikannya kepadaku. Akupun menyatakan hal yang sama.
Pertemuan dengan Tommy di restoran tersebut bukanlah hal yang terakhir. Sejak pertemuan itu, kami pun sering janjian untuk bertemu. Bahkan, kadang, aku bertemu dengan Tommy seorang diri tanpa membawa anakku. Kebetulan di rumah aku memiliki seorang pembantu rumah tangga.
Rupanya, inilah awal dari keretakan rumah tanggaku dengan Bambang. Aku sudah mulai jarang di rumah tanpa sepengetahuan Bambang. Maklum, setiap hari Bambang bekerja mulai dari pagi hingga malam. Sementara, kadang aku selalu bertemu dengan Tommy dari siang hingga sore.
Tommy telah membuka mataku tentang indahnya dunia ini. Ia mengajak aku shopping, wisata kuliner, dan mendatangi tempat- tempat hiburan lain. Ini semua kulakukan tanpa harus mengeluarkan duit. Aku seakan-akan sudah terjebak dalam kehidupan foya- foya.
Walaupun aku sering foya-foya dengan Tommy, sikapku di rumah tetap seperti biasa. Aku tetap sebagai istri melayani suamiku ketika ia baru pulang dari kantor. Termasuk mengurus pakaian dan makanannya saat ia akan ke kantor di pagi hari.
Setelah jalan bareng dengan Tommy selama dua bulan, aku pun tak mampu menolak ajakan Tommy untuk bertemu di hotel. Saat itu Tommy sudah membooking satu kamar di salah satu hotel berbintang di timur Jakarta. Sekitar pukul 11.00 WIB aku datang menemuinya di kamar itu. Setelah kami berbincang-bincang selama beberapa menit, aku tak kuasa ketika Tommy memeluk tubuhku.
Akhirnya, aku pun terjebak dalam rayuan syetan, tergoda dan rela melakukan hubungan suami istri dengan lelaki yang bukan suamiku sendiri. Sejak peristiwa itu, kami sering melakukannya, dari satu hotel ke hotel yang lain. Aku pun begitu menikmati kehidupanku ini. Namun, di hatiku setiap hari berteriak. Aku tak rela mengkhianati suamiku yang sudah memberiku tiga orang anak. Apalagi ia begitu baik dan begitu memercayaiku. Ia pun sangat disenangi oleh keluargaku.
Aku ingin lepas dari kehidupan Tommy yang harus kuakui telah memberi warna baru dalam hidupku. Ia pun mengaku tulus mencintaiku. Di depanku juga ia mengaku berdosa telah mengkhianati istrinya. Tapi, ia pun tak bisa meninggalkanku.
Bulan berganti bulan, kehidupanku tak ada yang berubah. Aku pun dan Tommy masih tetap jalan bareng. Bahkan, aku semakin takut kehilangannya. Namun, peribahasa yang mengatakan, sepandai- pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga telah terbukti kepada diriku.
Sepandai-pandainya aku menyembunyikan hubungannya dengan Tommy, akhirnya ketahuan juga oleh suamiku. Aku, ketahuan selingkuh setelah suamiku membaca SMS Tommy yang berisi kata-kata mesra. Ia pun memaksa aku untuk mengaku.Aku saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi suamiku langsung menghubungi nomor ponsel Tommy. Awalnya Tommy membantah, dan mengatakan bahwa ia dan diriku hanya berteman. Namun, setelah diancam oleh suamiku, Tommy mengakuinya dan meminta maaf.
Namun, suamiku sudah terlanjur sakit. Ia pun langsung menceraikanku. Saat ini aku, dan Bambang masih dalam tahap perceraian.
Namun, dalam doaku setiap selesai shalat aku memohon maaf kepada Allah SWT, kepada suamiku, kepada anak-anakku dan kepada keluargaku karena aku telah menyia-nyiakan cinta mereka. Aku ikhlas menerima ini semua atas konsekuensi dari perbuatanku sendiri.
Namun, aku masih tetap berharap untuk bisa kembali bersama dengan Bambang, dan akan aku buktikan untuk menjadi istri yang baik."
Catatan : sumber cerita ini belum jelas. Ada banyak blog yang memuat kisah ini jadi bingung menyebutkan sumber. Bila ada pembaca yang merasa tulisan ini adalah milik anda, harap menghubungi kami di parhusip@gmail.com atau berikan saran di kritik komentar.

